Showing posts with label Khutbah Jumat. Show all posts
Showing posts with label Khutbah Jumat. Show all posts

Khutbah Jumat: "Urgensi Do'a"

ADSENSE HERE

Khutbah Jumat Pentingya Doa Bagi Seorang Muslim


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. QS: Ali Imran:102

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS: Al Baqarah:186

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". QS: Ghafir:60

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. QS: Ali Imran:102

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS: Al Baqarah:186

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". QS: Ghafir:60

Keutamaan Berdoa

Berdoa kepada allah merupakan salah satu inti ibadah dan senjata bagi orang orang yang beriman. Menjadi 2 hal yang berbeda ketika dua orang yang seorang beriman dan satunya atheis yang sama-sama menaiki sebuah perahu untuk dapat menyebrang atau sampai ke sebuah tempat lain di bumi, ketika mereka sudah berada di tengah-tengah lautan kemudian terjadi hujan badai yang menggulung sehingga sampai sampai perahu mereka sebentar lagi ditelan lautan karena ombak yang begitu besar.

Tentu seorang yang beriman yang percaya dengan kekuatan yang lebih tinggi dari apa yang ada pada dirinya sendiri akan langsung berdoa dan mengingat Allah dzat yang maha perkasa yang memiliki kekuatan yang tiada bandingnya sehingga sangat mudah bagi Allah untuk menyelamatkannya dari situasi yang sangat genting tadi, dengan kekuatan keimanan seorang muslim akan lebih tenang dalam kondisi yang sangat buruk sekalipun, karena secara psikologis hatinya telah memiliki pegangan untuk menggantungkan posisi ia berada sekarang, berbeda dengan kondisi orang atheis yang hanya menyandarkan pada kekuatan dirinya semata dan menyandarkan pada hal hal yang sifatnya zahir saja.

Adab Dalam Berdoa Dan Sebab Terkabulnya Doa

Agar doa dan keinginan cepat terkabul  ada tata cara berdoa dan adab berdoa dalam islam yang harus di penuhi, adab berdoa menurut islam diantaranya:
1.    Iklas semata-mata untuk Allah SWT.
2.    Memulai Doa dengan pujian dan sanjungan kepada Allah SWT, kemudian bershalawat kepada Nabi dan ditutup dengan shalawat itu pula.
3.    Berdoa dengan mantap dan yakin akan dikabulkan.
4.    Berdoa dalam keadaan lapang maupun sempit (sulit)
5.    Berdoa secara perlahan dan tidak tergesa-gesa.
6.    Berdoa sepenuh hati
7.    Berdoa hanya kepada Allah.
8.    Tidak berdoa untuk kebinasaan keluarga, harta, anak-anak dan diri.
9.    Merendahkan suara ketika berdoa antara tidak bersuara dan bersuara keras.
10.    Mengakui dosa-daosa (yang telah dilakukan) kemudian memohon ampun kepada Allah, mengakui nikmat yang telah diberikannya dan bersyukur kepadaNya.
11.    Tidak memaksakan diri menggunakan ungkapan-ungkapan sajak (puitis)
12.    Berdoa sungguh-sungguh (merendah), khusyu serta penuh harap dan khawatir tidak dikabulkan.
13.    Meninggalkan kezaliman disertai taubat.
14.    Mengulangi doa sebanyak 3 Kali
15.    Menghadap Kiblat
16.    Mengangkat kedua tangan
17.    Berwudhu sebelum berdoa jika memungkinkan.
18.    Tidak berlebih-lebihan ketika berdoa.
19.    Jika akan mendoakan orang lain, mulailah dengan mendoakan diri sendiri. Dalam hadits shohih disebutkan bahwa Rosullullah SAW berdoa untuk dirinya sendiri sebelumberdoa untuk orang lain, akan tetapi dalam hadits lain disebutkan bahwa beliau tidak mendoakan dirinya terlebih dahulu ketika mendoakan Anas, Ibnu Abbas, Ummu Ismail dan yang lainnya.

Dengan sifat-Nya yang agung, Allah Senantiasa mengabulkan doa setiap hamba yang mau berdoa kepada-Nya. Setiap kiat manusia dalam meraih apa yang hendak diinginkan, tentu tidak hanya dibarengi dengan usaha semata. Namun usaha tersebut haruslah diimbangi dengan doa yang menjadi penyempurna dari usaha yang kita lakukan. Selain itu, doa juga menjadi simbol permintaan restu dan perlindungan dari Allah, agar bisa diberi kemudahan dalam menjalani setiap langkah dalam menggapai sesuatu yang kita inginkan. Semisal berdoa agar selalu diberi kesehatan, sukses dalam menjalani karir, atau berdoa agar selalu mendapat perlindungan, dan lain sebagainya.

Lantas, bagaimana cara Allah SWT untuk mengabulkan setiap doa bagi hamba-Nya tersebut?. Amat mudah bagi Allah yang maha kuasa untuk merestui serta mengabulkan doa bagi setiap umat yang meminta kepada-Nya. Namun apakah setiap doa tersebut ketika dipanjatkan langsung saja Allah mengabulkannya. Jika kita pernah mendengar pepatah bilang banyak cara menuju Roma . Maka dari itu, Allah Memiliki beragam cara yang tidak bisa dibayangkan oleh akal sehat manusia. Karena Allah Maha mengetahui segalanya, sedangkan kita hanyalah makhluk yang fana dan penuh dengan keterbatasan.

Akan tetapi, Dalam sebuah hadits Nabi telah dijelaskan bahwa Allah memiliki 3 cara dalam mengabulkan doa bagi setiap hamba yang meminta kepada-Nya. Sehingga hal demikian memang patut kita simak agar bisa menjadi renungan akan setiap doa yang kita panjatkan kepada Sang Ilahi.

Abu Said RadhiallahuAnhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Tidak ada seorang pun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, [1] Baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau, [2] Dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat, atau [3] Dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya, (HR. Ahmad dengan sanad Jayyid)

Dari hadits di atas, maka bisa dipetik 3 cara Allah mengabulkan doa seorang hamba, dan bisa disimpulkan dalam penjelasan berikut ini :

Allah Mengabulkan Secara Langsung Setiap Doa yang Dipanjatkan

Ketika kita berdoa kepada Allah, maka Allah SWT bisa saja mengabulkan doa kita secara langsung. Semisal kita meminta doa agar apa yang menjadi impian karir bisa segera tercapai, maka bisa saja melalui usaha yang kita lakukan, maka dalam waktu singkat Allah memudahkan jalan untuk mencapainya. Sehingga inilah cara Allah ketika mengabulkan doa itu secara langsung.

Allah Menunda Untuk Mengabulkan Doa Tersebut

Ini artinya Allah memang menunda doa yang kita panjatkan sampai batas waktu yang dikehendaki-Nya. Dimana doa kita ini akan dikabulkan asalkan kita mau bersabar. Semisal jika di tahun ini kita berdoa agar dimudahkan jalan untuk mencari rizki, namun secara tak terduga Allah memberikan rizki tersebut di tahun yang akan datang. Sehingga kita bisa terus bersabar dan berusaha serta berdoa. Maka Allah pun memilihkan waktu terbaik ketika rizki tersebut diberikan kepada kita semua. Namun bisa saja Allah menunda doa yang kita minta, sampai di akhirat kelak baru dikabulkan. Oleh karena itu, janganlah putus untuk selalu memanjatkan doa kepada Sang ilahi.

Allah Menggantikan Doa Tersebut Dengan Suatu Hal Yang Lebih Baik

Allah bisa saja menyempurnakan doa yang kita panjatkan, atau menggantikannya dengan suatu hal yang lebih baik. Karena bisa saja doa yang kita panjatkan tidak dikehendaki Allah, dan bisa berdampak buruk bagi diri kita, maka Allah menggantikannya dengan suatu hal yang lebih baik. Semisal di kala kita berdoa agar bisa memiliki pekerjaan di perusahaan tertentu, namun Allah berkehendak lain, dan menggantikannya dengan sebuah pekerjaan yang lebih baik dari apa yang kita minta. Oleh karena itu, selalu berdoa kepada Sang Pencipta memang sebuah pelindung atau benteng bagi kita semua, agar selalu diberikan jalan terbaik dalam menjalani hidup
ADSENSE HERE

Khutbah Jumat Singkat "Manisnya Iman"

ADSENSE HERE

Khutbah Jumat Singkat Tentang Manisnya Iman

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

Dari Abbas bin Abdil Muttholib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya:

"Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridho Allah sebagai Robnya, dan Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai nabi dan rasul" (HR Muslim)

Sesungguhnya barang siapa yang ridho Allah sebagai Robnya maka ia akan mencintaiNya dan bertawakkal kepadaNya serta memohon pertolongan kepadaNya. Ia merasa cukup denganNya, ia tidak akan meminta kepada selainNya, karena seluruh selainNya adalah lemah dan tidak mampu. Barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan Allah maka tidak sesuatupun yang akan mencukupkannya, dan barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah maka ia tidak akan butuh kepada apapun, dan barangsiapa yang merasa mulia dengan Allah maka ia tidak akan hina kepada sesuatupun. 

Sebagaimana Firman Allah dalam surat Az Zumar:36
أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِكَافٍ عَبۡدَهُۥۖ
Bukankah Allah cukup untuk hamba-hamba-Nya. (QS Az-Zumar : 36)
Barangsiapa yang ridho Muhammad sebagai Rasul maka ia akan mencukupkan Muhammad sebagai tauladannya dan pemimpinnya, serta pemberi arahan baginya, dan ia akan semangat untuk mempelajari sejarahnya dan menjalankan sunnahnya.

Barangsiapa yang ridho Islam sebagai agama maka ia akan merasa cukup dengan Islam, ia akan menjalankan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menjauhi yang dilarang, dan meyakini bahwa semua yang ada dalam ajaran islam adalah benar, adil, dan petunjuk.

Iman memiliki rasa manis yang tidak bisa dirasakan kecuali bagi orang yang beriman. Sebagaimana menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, manisnya madu hanya akan dirasakan oleh orang yang sehat, sedangkan orang yang sakit kuning tidak mampu merasakan manisnya. Demikian pula manisnya iman. Ia hanya didapatkan oleh orang-orang yang imannya "sehat". Diantaranya adalah yang memenuhi kriteria yang disebutkan dalam penggalan hadits dari anas bin malik radhiallahu 'anhu:

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Tiga perkara yang jika terdapat pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman, (1) Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya, (2) Ia mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Manisnya iman harganya mahal, dan memberi pengaruh yang diberkahi. Harga manisnya iman adalah " Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selainnya ". Yaitu Allah dalam bacaan qur'annya dan Nabi dalam sunnahnya lebih dicintai oleh seorang mukmin daripada selain keduanya. Tatkala bertentangan antara kemaslahatanmu dengan syari'at maka engkau mendahulukan kepentingan syari'at dan keridhoan Allah, engkau memilih ketaatan kepada Allah dan RasulNya daripada mengikuti hawa nafsu dan yang lainnya. 

Cinta kepada Rasulullah maksudnya adalah seorang muslim tidaklah menerima sesuatupun baik perintah maupun larangan kecuali dari ajaran Nabi shallallahu 'alahi wasallam, ia tidak menempuh kecuali jalan Nabi hingga ia tidak menerima sedikitpun keberatan terhadap keputusan Nabi, serta ia berhias dengan akhlak Nabi dalam hal kedermawanan, mendahulukan orang lain, kesabaran, tawdhu, dan yang lainnya.

Dan diantara harga manisnya Iman "Ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah", ini maksudnya adalah seorang mukmin menjalin hubungannya diatas pondasi keimanan. Ia mencintai kaum mukminin meskipun mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir, dan ia membenci para pelaku kemaksiatan dan kaum musyrikin meskipun mereka adalah orang-orang yang kuat dan kaya.

Hakikat dari mencintai karena Allah adalah kecintaannya tidak bertambah karena kebaikan orang lain dan tidak berkurang karena sikap kaku orang lain. Dan makna persaudaraan dalam Islam yang tidak akan murni dan kokoh kecuali jika persaudaraan tersebut karena Allah dan dalam keridhoan Allah. Persaudaraan Islam yang benar tidak akan merasakan manisnya iman kecuali jika melazimi ketakwaan. Allah berfirman
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS Al-Hujuroot : 10)
Allah juga berfirman: ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az-Zukhruf : 67)

"Dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka", disana ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang, rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Jika datang dunia maka iapun beriman, akan tetapi jika dunia pergi darinya maka iapun berlepas diri dari keimanan dan kembali kepada kondisinya semula.

Seorang mukmin yang benar, tidaklah terpengaruh dengan datang dan perginya dunia, hatinya kokoh, ia selalu dermawan dalam kondisi susah dan senang, dan kondisi miskin dan kaya, sehat dan sakit.

Orang-orang yang merasakan kelezatan iman mereka menyebutkan tentang kelezatan tersebut. Salah seorang dari mereka berkata, "Sungguh ada waktu-waktu kebahagiaan yang lewat di hati, aku katakan  jika seandainya penghuni surga dalam kondisi seperti ini, maka sungguh mereka dalam kenikmatan". Yang lain berkata, "Sesungguhnya di dunia ada surga, barangsiapa yang tidak masuk ke dalamnya maka ia tidak akan masuk ke dalam surga akhirat". Yang ketiga berkata, "Sesungguhnya keimanan memiliki kegembiraan dan kelezatan di hati, barangsiapa yang tidak merasakannya maka ia telah kehilangan imannya atau kurang imannya.

Diantara mereka yang merasakan manisnya iman adalah Khubaib bin 'Adiy radhiallahu 'anhu –yang tertawan oleh kaum musyrikin-. Dikatakan kepadanya, "Apakah kau suka jika Muhammad menggantikan posisimu dan engkau dalam kondisi selamat bersama keluargamu". Tatkala itu ia hampir dibunuh dengan disalib. Maka beliau berkata, "Demi Allah, aku tidak suka jika aku bersama istri dan anak-anakku, dan aku memiliki dunia dan kenikmatannya sementara Rasulullah tertusuk duri!"

Wanita yang merasakan manisnya iman, tatkala sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah terbunuh dalam perang Uhud. Maka wanita inipun pergi ke medan pertempuran, ternyata ayahnya terbunuh, saudara lelakinya terbunuh, putranya terbunuh, dan suaminya terbunuh. Wanita inipun berkata, "Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?". Tatkala matanya memandang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (masih hidup) maka iapun merasa tenang dan ia berkata, "Wahai Rasulullah, seluruh musibah menjadi ringan selama engkau selamat".

Orang yang merasakan manisnya iman jika engkau mencincang tubuhnya maka ia tidak akan bergeser dari agamanya. Kaum musyrikin meletakan batu di atas dada Bilal agar ia kafir, maka Bilal berkata, "Ahad, Ahad” seraya mengesakan Alloh swt.

Jika seorang muslim telah merasakan manisnya iman maka ia akan menjadi manusia yang lain, ada rasa yang lain dalam kehidupannya. Ia membangun manisnya iman dengan suka memberi, ia bahagia dengan pemberiannya bukan dengan menerima pemberian, ia memberikan kebaikan bagi orang lain, ia berusaha agar dirinya agung di sisi Allah meskipun di sisi manusia ia adalah orang yang rendah.

Diantara ciri-ciri manisnya iman : Seorang mukmin meyakini dari relung hatinya yang paling dalam bahwasanya rizki di tangan Allah, apa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba maka tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya, dan bahwasanya seseorang/jiwa tidak akan mati hingga dipenuhi rizqinya dan ajalnya.

Dan diantara buah bentuk manisnya iman seorang mukmin terbebaskan dari hawa nafsunya dan godaan jiwanya yang menyeru kepada keburukan dan fitnah harta. Ia terbebaskan dari sikap pelit dan kikir, serta ia berhias dengan muroqobatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah), berhias dengan ikhlas, kedermawanan dan mendahulukan kepentingan saudaranya. Semoga kita semua bisa meraih manisnya iman dan sesungguhnya Allah berfirman :
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl : 97)

Khutbah Kedua

Manisnya iman menjadikan seluruh ibadah menjadi ledzat. Salah seorang dari mereka berkata, "Seluruh kelezatan hanya memiliki satu kelezatan kecuali ibadah, ia memiliki tiga keledzatan. Tatkala engkau sedang beribadah, tatkala engkau mengingat ibadah tersebut, dan tatkala engkau diberi ganjaran atas ibadah tersebut"

Dalam sholat ada kelezatan tatkala ditunaikan oleh seorang muslim dengan kekhusyu'an dan kehadiran hati, maka jadilah sholat adalah penyejuk pandangannya dan ketenteraman jiwanya serta surga bagi hatinya dan ketenangannya di dunia. Ia selalu merasa dalam kesempitan hingga ia melaksanakan sholat. Karenanya Imamnya orang-orang yang bertakwa yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata,
أَرِحْنَا بِهَا يَا بِلاَلُ

"Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat"
Sholat malam di sisi para sahabat, para tabi'in, dan para salaf umat ini memiliki kedudukan yang agung dan kelezatan yang tidak tertandingi. Berkata salah seorang dari mereka, "Demi Allah, kalau bukan karena sholat malam aku tidak ingin hidup menetap di dunia, demi Allah sesungguhnya orang yang sholat malam di malam hari bersama Allah lebih merasa ledzat daripada orang-orang yang berhura-hura dalam kelalaian mereka"

Aslaf dan kaum sholeh benar-benar berlezat-lezat dengan berpuasa. Adapun haji, maka kelezatannya mendorong para jama'ah haji untuk menaiki tunggangan dan kuat menempuh perjalanan berat dengan penuh kerinduan untuk ke ka'bah. Dan dzikir kepada Allah ada kelezatan, Allah berfirman :
أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ro'd : 28)

Membaca Al-Qur'an memiliki kelezatan. Utsman bin 'Affaan radhiallahu 'anhu berkata, "Kalau seandainya hati-hati kalian bersih maka kalian tidak akan pernah merasa cukup dari firman Allah". Allah berfirman :
وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا ١٩
Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS Al-Isroo' : 19)

Dan iman jika telah masuk ke dalam relung hati maka hati akan berseri dan akan menimbulkan kelezatan dalam hati, akan menjadikan kehidupan bahagia, dan dada menjadi lapang. Barangsiapa yang merasakan manisnya iman maka ia akan merasakan kelezatan dalam beribadah, ia akan berjuang di atas jalanNya, dan akan berkorban dengan segala sesuatu demi Allah. Allah berfirman :
قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٥٨
Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS Yunus : 58)
Jika manisnya iman telah merasuk dalam relung hati maka akan menjadikan pemiliknya selalu bersama Allah di setiap waktu dan di setiap tempat, dalam gerakannya dan diamnya, siang dan malam, ia selalu bersama Penciptanya dan Penolongnya. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kita untuk selalu berkata
رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا
Aku ridho Allah sebagai Rob, Islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai nabi (HR At-Tirmidzi)

Meninggalkan maksiat karena Allah akan membuahkan rasa manis dalam hati, orang yang meninggalkan maksiat karena takut dan malu kepada Allah maka ia akan merasakan manisnya Iman.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
النظرة سهم من سهام إبليس مسمومة فمن تركها من خوف الله أثابه جل وعز إيمانا يجد حلاوته في قلبه
"Pandangan (haram) adalah anak panah beracunnya Iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah Azza wa Jalla akan memberinya ganjaran keimanan, yang ia rasakan manisnya iman tersebut di hatinya" (sanadnya shahih)


ADSENSE HERE