Friday, September 30, 2016

Misteri Kembalinya Yahudi Ke Tanah Suci Palestina Setelah 2000 Tahun

Penjelasan Al-Qur’an Tentang Kembalinya Umat Yahudi ke Tanah Suci 

yahudi kembali ke palestina

“Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya maka kamu akan mengetahuinya; dan Tuhanmu tidak lengah terhadap semua yang kamu kerjakan.” (al-Qur’an, an-Naml, 27: 93)

Kita hidup pada masa umat Yahudi kembali ke Jerusalem untuk memilikinya lagi setelah diusir Tuhan selama hampir dua ribu tahun. Saat ini, Jerusalem tumbuh makmur, mengembangkan kekuatan, dan mempengaruhi seluruh wilayah di sekitarnya. Negara Israel telah memastikan perjanjian ‘damai’ yang menguntungkan dengan negara-negara sahabat seperti Mesir dan Yordania. Israel juga telah membuat persetujuan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO – Palestine Liberation Organization), sehingga semakin melemahkan pihak yang menentang pembentukan Negara Yahudi. Bahkan Saudi Arabia diam-diam masuk dalam pelukan Israel hingga secara dramatis menawarkan Rencana Saudi (Saudi Plan) yang mengakui Negara Yahudi.

Pada saat yang sama, Madinah kembali menjadi kota ‘terpencil dan terbelakang’ yang tidak mempunyai pengaruh apapun di wilayah sekitarnya atau pun di dunia secara luas. Selain itu, yang semakin merendahkan Madinah adalah Negara Saudi yang dibentuk dari keruntuhan Khilafah Islam, malah menjadi negara sahabat Inggris. Saat Amerika Serikat menggantikan Inggris sebagai Negara Penguasa di dunia, Negara Saudi pun menjadi negara sahabat Amerika Serikat. Saudi Arabia, seperti Israel, dari sejak awal keberadaannya bergantung (pertama) pada Inggris, dan kemudian pada Amerika Serikat agar tetap bisa bertahan.

Aliansi Saudi-Wahabi di Negara Saudi dengan penuh kesungguhan memelihara status negara sahabat dengan Inggris sejak 1916, saat ‘Abdul ‘Aziz bin Saud menerima uang sejumlah 5.000 poundsterling tiap bulan dari Inggris sebagai balasan atas kerjasama membantu Inggris merebut wilayah Hijaz dari kekuasaan Khilafah Islam Ottoman. Gerakan religius Wahabi memelihara status negara sahabat dengan umat Kristen dan Yahudi Barat. Mereka selalu memegang pandangan bahwa umat Kristen dan Yahudi lebih dekat kepada mereka daripada umat Muslim lainnya. Kaum Wahabi menganggap umat Muslim non-Wahabi adalah Kafir dan menghina mereka semua melakukan Syirik! Sementara itu, Negara Israel pun muncul sebagai negara sahabat Barat. 

Perbedaan dasar di antara dua negara sahabat Barat ini, yakni Israel dan Saudi Arabia, adalah bahwa Negara Israel ditakdirkan tidak hanya bergantung pada hubungan negara sahabat tersebut, tetapi juga akan muncul sebagai negara adikuasa yang akan melebihi Inggris dan Amerika Serikat dan kemudian menjadi Negara Penguasa di dunia. Saat hal itu terjadi, Negara Saudi akan menjadi sahabat Israel.

Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) membuat nubuat bahwa hal ini akan terjadi. Tetapi nubuat tersebut mengungkapkan takdir yang tidak menyenangkan bagi Israel.

“Dari Mu’adz bin Jabal: Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) bersabda: Negara makmur Jerusalem akan ada saat Yatsrib (Madinah di Saudi Arabia saat ini) dalam keruntuhannya, keruntuhan Negara Yatsrib akan terjadi saat perang besar datang, pecahnya perang besar akan menghasilkan penaklukan Konstantinopel, dan penaklukan Konstantinopel saat Dajjal (al-Masih palsu atau Anti-Kristus) muncul. Dia (Nabi) menepuk pahanya atau bahunya dengan tangannya dan berkata: Hal ini benar seperti kamu berada di sini atau kamu duduk (maksudnya Mu’adz bin Jabal).” (Sunan Abu Daud)

Negeri makmur Jerusalem saat ini, pada intinya mewujudkan nubuat di atas. Israel dengan berhasil menentang presiden Amerika Serikat juga Dewan Keamanan PBB yang keduanya menyerukan penarikan militer Israel dari Tepi Barat Palestina. Hal ini terjadi setelah Israel merespon gelombang gerakan bom manusia Palestina (yang adalah Syuhada dan tidak seharusnya disebut bom bunuh diri). Hal ini akan meningkat saat Israel melancarkan perang terbesarnya. Perang itu akan mengantarkan Israel pada proses dramatis perluasan wilayahnya. Nubuat Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) di atas kemudian akan menjadi lebih jelas untuk dipahami.

Keruntuhan ekonomi Amerika Serikat yang diprediksi akan terjadi dan keberhasilan Israel menentang seruan Amerika Serikat sehingga Israel pun memperluas wilayahnya dengan perang akan mengakibatkan perwujudan lengkap nubuat tersebut. Hal yang sama pada nubuat runtuhnya Yatsrib (Madinah), intinya terwujud dalam status Saudi Arabia yang menjadi negara sahabat Amerika Serikat yang tidak bertuhan. Saat Israel mengambil alih peran negara adikuasa di dunia dan Negara Saudi menjadi sahabat Israel, maka lengkaplah perwujudan nubuat tersebut. Dampaknya adalah umat Muslim saat ini berada di tepi perang besar yang mungkin akan mulai dilancarkan Israel bersama pasukan Turki-Kemalis.

Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) membuat nubuat umat Muslim akan berperang dengan Turki yang kekuatan militernya sekarang diperalat oleh Israel: 

“Dari Abu Hurairah: Nabi besabda: Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi bangsa yang memakai sepatu berbulu dan hingga kalian memerangi bangsa Turki, yang bermata kecil, muka merah, dan hidung datar; dan muka mereka seperti perisai datar. Dan kalian akan menemukan orang-orang terbaik adalah mereka yang membenci tanggung jawab memimpin hingga mereka dipilih menjadi pemimpin. Dan orang-orang memiliki sifat yang berbeda-beda, yang terbaik pada periode pra Islam adalah yang terbaik dalam Islam. Akan datang suatu waktu saat kalian akan lebih ingin menemui aku daripada keluarga dan harta kalian dilipatgandakan.” (Sahih Bukhari)

Perang mungkin dapat dimulai dengan sebuah serangan Turki terhadap Suriah yang akan digunakan Israel untuk memicu lautan api yang lebih besar di wilayah itu. Tetapi pada akhirnya, Negara Israel akan muncul sebagai Negara Penguasa di dunia. Setelah peristiwa ini, Dajjal akan muncul pada dimensi waktu seharinya sama dengan hari ‘kita’ yakni dia akan muncul di dunia kita ini. Tentunya dia akan muncul di Jerusalem sebagai pemimpin Negara Israel. Saat Dajjal al-Masih Palsu muncul, pada saat itulah al-Masih Asli putra Maryam akan kembali. Dia akan membunuh Dajjal kemudian pasukan Muslim akan menghancurkan Negara Israel.

Al-Qur’an membuat nubuat kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci dan juga menjelaskan dampaknya. Ada sejumlah ayat al-Qur’an dan nubuat dari sabda Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) mengenai takdir Jerusalem. Para pembaca seharusnya mengarahkan perhatian penuh pada sepuluh pernyataan mengenai takdir Jerusalem berikut ini. 

Baik al-Qur’an maupun Hadits menegaskan bahwa ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) suatu hari akan kembali ke dunia. Pada saat itu, umat Yahudi tidak memiliki pilihan kecuali mempercayainya sebagai al-Masih. Kemudian mereka akan dihancurkan, tetapi akan mati dengan pengetahuan yang pasti bahwa ‘Kebenaran’ yang mereka pegang sebenarnya adalah ‘kebatilan’. Sedangkan pesan-pesan yang mereka tolak dari ‘Isa (‘alayhi salam) dan Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) sesungguhnya adalah ‘Kebenaran’. Dengan demikian, mereka akan mati dengan pengetahuan yang pasti bahwa mereka akan masuk neraka.

Setelah mereka berseru dengan angkuh telah menyalib ‘Isa (‘alayhi salam), Allah mengusir mereka dari Tanah Suci. Kemudian al-Qur’an menetapkan takdir Jerusalem dan umat Yahudi sebagai berikut:

Diaspora umat Yahudi yang terpecah-belah menjadi banyak golongan dan tersebar ke berbagai penjuru bumi,
Umat Yahudi dilarang kembali ke Tanah Suci untuk memilikinya lagi,
Kesempatan umat Yahudi diampuni Allah Maha Pengasih, jika mereka beriman pada Nabi yang ummi (non-Yahudi),
Tuhan menakdirkan kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci pada ‘Akhir Waktu’ (tahap akhir dari ‘Zaman Akhir’),
Ya’juj dan Ma’juj bertanggung jawab atas kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci,
Peringatan bagi umat Yahudi bahwa hukuman Tuhan dapat terulang kembali,
Peringatan hukuman terburuk akan ditimpakan kepada umat Yahudi,
Kebutaan spiritual saat tiba waktunya hukuman final,
Ditemukannya jenazah Fir’aun yang menandakan bahwa umat Yahudi akan mengalami nasib yang sama seperti yang dia alami,
Umat Yahudi tidak mempunyai pilihan kecuali mempercayai ‘Isa (‘alayhi salam) sebagai al-Masih saat dia kembali tetapi hal itu sudah terlambat untuk menyelamatkan mereka dari hukuman yang mengerikan dan dari api nereka.

1. Diaspora umat Yahudi yang terpecah-belah menjadi banyak golongan dan tersebar ke berbagai penjuru bumi Saat Allah Maha Tinggi mengusir umat Yahudi dari Tanah Suci setelah mereka menolak al-Masih dan berusaha membunuhnya, Dia membuat sebuah peringatan yang menetapkan bahwa Diaspora kali ini berbeda. Sebelumnya di Babilonia, umat Yahudi tetap dalam satu komunitas homogen yang hidup di satu lokasi geografis. Tetapi pada saat pengusiran kedua mereka, Allah Maha Tinggi menyatakan bahwa kali ini berbeda. 

“dan Kami sebar mereka menjadi banyak golongan yang terpisah (ke berbagai penjuru) di bumi…”
(al-Qur’an, al-’Araf, 7: 168) 

Pernyataan al-Qur’an ini terwujud secara menakjubkan, selama dua ribu tahun, umat Yahudi tetap tersebar ke berbagai penjuru di dunia. Selama periode ini mereka tinggal di Yaman, Maroko, Irak, Iran, Mesir, Yordania, Libya, Etiopia, Arabia, Suriah, Turki, dll. Penyebaran aneh Diaspora umat Yahudi selama dua ribu tahun menandakan kemarahan dan hukuman Tuhan dan pemeluk Yahudi pun banyak yang mengakuinya.

2. Umat Yahudi dilarang kembali ke Tanah Suci untuk memilikinya lagi Setelah mengusir umat Yahudi, Allah Maha Tinggi melarang mereka kembali ke Tanah itu untuk memilikinya. Larangan itu menjadi kenyataan sejarah dan tetap berlaku selama dua ribu tahun. Dan hal ini mengandung konfirmasi yang dramatis dari pernyataan al-Qur’an dalam surat al-Anbiyah: 

“Dan ada larangan pada (penduduk) sebuah Kota yang telah Kami hancurkan: bahwa mereka (penduduk kota itu ) tidak akan kembali (untuk memiliki Kota mereka lagi).” (al-Qur’an, al-Anbiyah, 21: 95) 

Seperti yang sebelumnya telah dijelaskan, Kota yang disebutkan itu adalah Jerusalem. Larangan Tuhan bagi umat Yahudi kembali ke Jerusalem (dan Tanah Suci) untuk memilikinya lagi menandakan kemarahan dan hukuman Tuhan. Itu juga berarti menyampaikan pesan kepada mereka bahwa mereka tidak lagi menjadi ‘Umat Pilihan’.

3. Kesempatan umat Yahudi diampuni Allah Maha Pengasih, jika mereka beriman pada Nabi yang ummi (non-Yahudi) Bahkan setelah Allah Maha Tinggi mengusir umat Yahudi dari Tanah Suci kemudian melarang mereka kembali ke Jerusalem (untuk memilikinya lagi), al-Qur’an menyatakan bahwa masih ada kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan ampunan dari Allah Maha Pengasih: 

“Mudah-mudahan Tuhan kalian memberikan kasih sayang (ampunan) kepada kalian…” (al-Qur’an, Bani Israel, 17: 8) 

Allah Maha Tinggi memberi mereka periode waktu yang Dia siapkan untuk mengampuni mereka jika mereka memperbaiki jalan mereka, mencari ampunan-Nya, dan kembali pada Agama Ibrahim (‘alayhi salam). Tetapi hanya ada satu pintu untuk mendapatkan ampunan tersebut. Al-Qur’an menegur Bani Israel yang telah menerima Taurat dan Injil dan menginformasikan mereka jalan menuju ampunan sebagai berikut: 

“Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) disebutkan dalam (Kitab) milik mereka sendiri – Taurat dan Injil – yang menyuruh mereka berbuat yang makruf (baik dan adil) dan melarang mereka dari yang mungkar (jahat dan tidak adil); dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka; dia membebaskan mereka dari beban berat dan penindasan yang menimpa mereka. Adapun orang-orang yang beriman padanya, menghormatinya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung (dan mendapat keselamatan).” (al-Qur’an, al-’Araf, 7: 157) 

Maka dari itu, dengan menerima, mengimani, dan mengikuti Nabi Terakhir (shollallahu ‘alayhi wassalam), ampunan dan kasih sayang pun dapat diperoleh. Ada sejumlah tanda untuk mengetahui bahwa waktu yang diberikan kepada Bani Israel, untuk mendapat ampunan telah habis. Di antara tanda tanda itu ialah lepasnya Dajjal dan Ya’juj-Ma’juj ke dunia. Keduanya terjadi pada masa hidup Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam), tujuh belas bulan setelah beliau tinggal di Madinah bersama umat Yahudi. 

Sampai saat itu, menjadi sangat jelas bahwa umat Yahudi telah menolak beliau (shollallahu ‘alayhi wassalam) dan al-Qur’an, dan bahkan berkonspirasi untuk menghancurkan Islam. Pada saat itulah, Allah Maha Tinggi menurunkan wahyu yang menetapkan Ka’bah di Mekah sebagai Kiblat baru dalam solat. Perubahan Kiblat dari Jerusalem ke Mekah menandakan bahwa satu-satunya pintu kesempatan bagi umat Yahudi untuk mendapatkan Ampunan dan Kasih Sayang Tuhan telah ditutup, Zaman Akhir telah dimulai, dan hukuman yang tak terelakkan bagi umat Yahudi sudah tidak bisa dihindari. Itu adalah sesuatu yang sudah ditetapkan.
Meskipun Zaman Akhir telah dimulai dan pintu menuju ampunan Tuhan telah ditutup, umat Yahudi masih harus menunggu sebelum hukuman final mereka terjadi. Dalam periode waktu yang panjang sebelum hitungan
mundur pada hukuman final dimulai, umat Yahudi sebenarnya menemukan perlindungan di tengah-tengah umat Muslim: 

“Mereka diliputi kehinaan di mana pun mereka berada kecuali saat di bawah perjanjian (perlindungan) dari Allah dan dari orang-orang beriman; mereka mendapat murka dari Allah, dan diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari Tanda-tanda Allah, dan membunuh Nabi-nabi untuk menentang Kebenaran. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan
melampaui batas.” (al-Qur’an, Ali-Imran, 3: 112) 

Waktu ‘hitungan mundur’ terjadinya hukuman dimulai dengan Tanda dari Allah Maha Tinggi. Di antara Tanda-tanda itu, satu yang paling dapat dilihat adalah ditemukannya jenazah Fir’aun yang tenggelam saat mengejar Musa (‘alayhi salam) dan Bani Israel. Sayangnya bagi umat Yahudi, jenazah Fir’aun (Ramses II) yang telah ditemukan merupakan tanda bahwa sekarang sudah terlambat bagi mereka untuk menyesal (bertobat) dan menerima kebenaran yang diturunkan oleh Tuhannya Ibrahim (‘alayhi salam) dalam al-Qur’an,
dan percaya bahwa Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) adalah Rasul Allah Maha Tinggi yang terakhir. Juga sudah terlambat bagi mereka untuk menghindari hukuman terbesar dari Tuhan: 

“Apakah mereka menunggu kedatangan para Malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu (sendiri), atau ‘Tanda-tanda’ yang pasti dari Tuhanmu? Pada hari ‘Tanda-tanda’ dari Tuhanmu datang (Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, penemuan jenazah Fir’aun, dll.) tidak berguna lagi iman seseorang, jika beriman sebelum berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah: “Tunggulah! Kami pun menunggu.” (al-Qur’an, al-An’am, 6: 158) 

4.Tuhan menakdirkan kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci pada ‘Akhir Waktu’ (tahap akhir dari ‘Zaman Akhir’) Selanjutnya, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi sendiri membawa umat Yahudi kembali ke Tanah Suci pada ‘Akhir Waktu’. Umat Yahudi ditipu sehingga meyakini bahwa kembalinya mereka ke Tanah Suci untuk menguasainya berarti mengesahkan klaim mereka terhadap Kebenaran. Nubuat mengenai kembalinya mereka untuk yang terakhir kali ke Tanah Suci pun terwujud menjadi kenyataan, bahkan lebih mengejutkan, melalui pembentukan Negara Israel Gadungan: 

“Dan setelah itu Kami berfirman kepada Bani Israel: tinggallah dengan aman di Tanah (Suci) (dengan syarat kalian tetap beriman pada Allah dan kalian tetap berbuat baik), tetapi (ketahuilah) saat peringatan terakhir datang (saat Zaman Akhir datang), niscaya kami (akan) mengumpulkan kalian bersama dalam keadaan bercampur baur (kalian semua akan dibawa kembali ke Tanah Suci lengkap dengan semua perbedaan kalian yang terakumulasi selama ribuan tahun dalam Diaspora yang tersebar).” (al-Qur’an, Bani Israel, 17: 104) 

Nubuat al-Qur’an ini menyatakan bahwa pada Zaman Akhir akan terjadi peristiwa kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci yang mengumpulkan perbedaan dan heterogenitas mereka. Kata ‘lafif’ merupakan kumpulan
manusia yang tidak sama. Ini adalah deskripsi yang tepat mengenai warga Yahudi di Israel sekarang. Mereka adalah ‘kumpulan pemeluk agama Yahudi yang beraneka ragam’ dari berbagai macam bagian dunia, berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan logat yang berbeda, memakai pakaian yang berbeda, memakan makanan yang berbeda, beribadah dengan cara yang berbeda di sinagog yang berbeda, dll. Tetapi perbedaan yang paling menakjubkan adalah ras, dan itu mewujudkan nubuat al-Qur’an menjadi kenyataan. Israel modern terdiri dari banyak penganut Yahudi yang asli Eropa dengan mata biru dan rambut pirang. Ada kemunculan bukti genetis yang menunjukkan bahwa umat Euro-Yahudi (Yahudi Ashkenazi) berbeda secara
genetis dengan manusia lainnya di bumi. Homogenitas rasial umat keturunan Ibrahim (‘alayhi salam) melalui Ishak (‘alayhi salam) dan Yakub (‘alayhi salam) telah menghilang. Apa makna dan dampak dari terwujudnya nubuat Qur’ani mengenai kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci pada Zaman Akhir? 

5. Ya’juj dan Ma’juj bertanggung jawab atas kembalinya umat Yahudi ke Tanah Suci Paling tidak ada tiga ayat dalam al-Qur’an yang dengan jelas menyebutkan hukuman Tuhan bagi umat Yahudi saat mereka dibawa kembali ke Tanah Suci. Berikut ini adalah dua dari tiga ayat tersebut: 

“Dan ada larangan pada (penduduk) sebuah Kota yang telah Kami hancurkan: bahwa mereka (penduduk kota itu) tidak akan kembali (untuk memiliki Kota mereka lagi)” “Hingga dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dan (kemudian) mereka (Ya’juj dan Ma’juj) turun berkerumun dengan cepat dari setiap ketinggian (atau menyebar ke segala arah).” (al-Qur’an, al-Anbiyah, 21: 95-96) 

Sementara identitas ‘Kota’ itu tidak dinyatakan secara langsung, sangat jelas bahwa itu tidak mungkin selain Jerusalem. Ada identifikasi Qur’ani yang secara tersirat sebagai berikut: Para Rabi di Madinah menanggapi permohonan orang-orang Quraisy untuk menunjukkan cara bagaimana mereka dapat menentukan apakah Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) adalah Nabi atau bukan. Tanggapan mereka adalah dengan mengajukan tiga pertanyaan. Jika dia dapat menjawab ketiganya dengan benar maka dia memang Nabi asli. Allah Maha Tinggi merespon dengan menurunkan jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut dalam al-Qur’an. Jawaban dari dua pertanyaan (tentang para pemuda yang lari ke gua dan ‘penjelajah agung’ yang menjelajah sampai ke dua ujung bumi) diletakkan dalam Surat al-Kahfi (lihat al-Kahfi, 18: 9-26; dan 83-98).

Namun jawaban untuk pertanyaan ketiga (tentang ruh) diletakkan dalam Surat Bani Israel, 17:85. Dampak dari pengaturan yang misterius ini adalah prinsip penafsiran yang menghubungkan dua Surat al-Qur’an sebagai pasangan. Dr. Israr Ahmad, sarjana al-Qur’an yang terkemuka, telah menunjukkan banyak bukti yang mengkonfirmasi bahwa dua surat tersebut adalah pasangan.

Dengan begitu, untuk menentukan identitas para pemuda dalam gua, Dzulqarnain, Ya’juj dan Ma’juj, dan Qaryah (Kota), kami harus menelaah Surat Bani Israel (surat ke-17). Ketika kami melakukannya, kami menemukan bahwa Surat tersebut berkaitan dengan hanya satu Qaryah (Kota), yakni Jerusalem. Di sisi lain, Hadits Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam), secara langsung menentukan identitas Kota tersebut. Tidak hanya Jerusalem disebutkan namanya dalam Hadits terkait Ya’juj dan Ma’juj tetapi juga tidak ada Kota lain yang dihancurkan Allah Maha Tinggi yang disebutkan selain Jerusalem. Hadits berikut menggambarkan dan menceritakan peristiwa kembalinya ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam), cukup untuk membentuk hubungan antara Ya’juj dan Ma’juj dengan Tanah Suci, termasuk Jerusalem. Dan dengan demikian, identitas Qaryah (Kota) tidak mungkin selain Jerusalem:

“Dari al-Nawwas bin Sam’an: … pada keadaan itulah Allah akan menurunkan kepada ‘Isa (‘alayhi salam) wahyu ini: Aku telah memunculkan dari antara hambahamba- Ku suatu kaum yang tidak akan ada yang dapat melawannya; engkau bawalah orang-orang ini dengan selamat ke Tur, kemudian Allah akan mengirim Ya’juj dan Ma’juj dan mereka akan turun berkerumun dengan cepat dari setiap ketinggian. Yang pertama dari mereka akan melewati Danau Tiberius (Laut Galilee) dan meminum airnya. Dan saat yang terakhir dari mereka melewatinya, dia akan berkata: Dulu pernah ada air di sini. ‘Isa (‘alayhi salam) dan sahabat-sahabatnya kemudian akan dikepung di Tur (dan mereka akan begitu tertekan) sehingga kepala lembu jantan akan lebih diinginkan mereka daripada seratus Dinar…” (Sahih Muslim)

Laut Galilee ada di Tanah Suci dan Tur yang disebutkan dalam Hadits adalah sebuah gunung di Jerusalem. Hal ini disebutkan dalam Hadits versi lain yang diriwayatkan oleh orang yang sama:

“Ya’juj dan Ma’juj akan berjalan hingga mereka sampai di gunung al-Khamr, dan itulah gunung di Baitul Maqdis (Jerusalem) dan mereka akan berkata: Kami telah membunuh orang-orang yang ada di bumi. Sekarang biarkan kami membunuh orangorang yang ada di langit. Mereka akan menembakkan anak panahnya ke langit dan anak panah tersebut akan kembali kepada mereka dengan berlumur darah.” (Sahih Muslim)

Sekarang kita sampai pada keadaan mengenali kembalinya umat Yahudi ke Jerusalem pada ‘Akhir Waktu’ sebagai pertanda yang tidak hanya mengkonfirmasi lepasnya Ya’juj dan Ma’juj tetapi juga menandakan bahwa mereka sekarang menguasai dunia dengan kekuatan yang tak terkalahkan. Ya’juj dan Ma’juj adalah pelaku Fasad (lihat al-Qur’an, al-Kahfi, 18: 94). Fasad berarti “kerusakan, kelicikan, kejahatan, kekejaman, tidak bermoral, durhaka, dll.” 

Saat Ya’juj dan Ma’juj memeluk suatu umat maka mereka membimbing umat tersebut menuju api neraka. Hadits menunjukkan bahwa globalisasi pada Zaman Ya’juj dan Ma’juj akan mencapai puncaknya dengan 999 dari setiap seribu orang akan memasuki api neraka: 

“Dari Abu Said al-Khudri: Nabi bersabda: Pada Hari Kebangkitan, Allah akan berseru: Wahai Adam! Adam akan menjawab: Labbaik Tuhan kami, dan sa’daik. Kemudian akan ada seruan (berkata): Allah memerintah engkau mengambil dari keturunanmu untuk dibawa ke api (neraka). Adam akan bertanya: Ya Tuhan! Berapa banyak mereka yang dimasukkan ke api (nereka)? Allah akan menjawab: Dari setiap seribu, ambillah 999. Pada saat itu setiap wanita hamil akan menggugurkan kandungannya dan rambut setiap anak akan beruban. “Dan kalian akan melihat umat manusia dalam keadaan mabuk, padahal tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” (al-Qur’an, al-Hajj, 22: 2). (saat Nabi menyebutkan ini), orang orang begitu tertekan (dan khawatir) sehingga (raut) muka mereka berubah, pada saat itulah Nabi bersabda: Dari Ya’juj dan Ma’juj 999 orang akan diambil, dan satu dari kalian. Kalian umat Muslim (dibandingkan dengan banyaknya jumlah umat manusia yang lain) bagaikan satu rambut hitam di kulit lembu putih, atau satu rambut putih di kulit lembu hitam, dan aku berharap bahwa kalianlah seperempat dari penduduk surga. Pada saat itu, kami berseru: Allahu Akbar! Kemudian dia bersabda: Aku harap kalian akan menjadi sepertiga dari penduduk surga. Kami berseru lagi: Allahu Akbar! Kemudian dia bersabda: (Aku harap kalianlah) setengah dari penduduk surga. Maka kami berkata: Allahu Akbar.” (Sahih Bukhari)

Kembalinya umat Yahudi ke Jerusalem dan restorasi Negara Israel dicapai melalui Ya’juj dan Ma’juj dan al-Masih Palsu (al-Masih ad-Dajjal). Dengan demikian, hal itu mengandung bahaya terbesar dalam sejarah umat Yahudi. Pada kenyataannya, nasib mereka sudah ditetapkan. Tetapi, bahkan mereka tidak menyadarinya. Hanya dengan memeluk al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan Tuhannya Ibrahim, dan ajaran Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam), Nabi Terakhir, akan menjadi mungkin bagi umat Yahudi untuk menyadari kenyataan yang sekarang mereka hadapi. Buku yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits ini seharusnya membantu mereka memahami kenyataan itu.

6. Peringatan bagi umat Yahudi bahwa hukuman Tuhan dapat terulang kembali Al-Qur’an memperingatkan umat Yahudi bahwa jika mereka kembali pada jalan kejahatan maka Allah Maha Kuasa akan kembali dengan hukuman-Nya.  Pertama, Dia menghukum mereka dengan pasukan Babilonia. Kemudian Dia menghukum mereka dengan pasukan Romawi. Hukuman terakhir, saat itu terjadi, Dia akan menghukum mereka dengan pasukan Muslim:

“Mudah-mudahan Tuhan kalian memberikan kasih sayang (ampunan) kepada kalian, tetapi jika kalian kembali (pada dosa-dosa kalian) Kami pun akan kembali (pada hukuman-hukuman Kami); dan Kami telah menyiapkan neraka sebagai penjara bagi orang-orang yang ingkar (menolak untuk beriman).” (al-Qur’an, Bani Israel, 17: 8) 

7.Peringatan Tuhan mengenai hukuman terburuk akan ditimpakan kepada umat Yahudi Al-Qur’an memberi peringatan sejelas dan seterang mungkin kepada umat Yahudi bahwa suatu hari mereka akan menghadapi kenyataan yang sekarang menghadapi mereka, yaitu Ya’juj-Ma’juj dan Dajjal al-Masih Palsu yang dilepaskan ke dunia. Umat Yahudi menolak beriman pada al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan Tuhannya Ibrahim dan pada Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) sebagai Nabi Terakhir dari Tuhannya Ibrahim. Akibatnya mereka tidak dapat mengenali kenyataan itu: 

“Dan, Ingatlah! Ketika Tuhan kalian memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburukburuknya kepada mereka (umat Yahudi) sampai Hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhan kalian sangat cepat siksa-Nya, tetapi dia juga Maha Pengampun, Maha Pengasih.” (al-Qur’an, al-’Araf, 7:167) 

Hukum Allah Maha Tinggi adalah hukuman harus sepadan atau sebanding dengan kejahatan. Dan karena umat Yahudi melakukan kejahatan terburuk dalam usaha mereka menyalib ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam), mengubah Taurat, dll., mereka akan membayarnya dengan hukuman terburuk. Hukuman itu akan dimulai bahkan sebelum Hari Penghakiman, sesungguhnya hukuman itu akan dimulai setelah Nabi Terakhir (Muhammad saw.) datang ke dunia lalu mereka tolak. Rangkaian peristiwa dramatis kemudian terjadi menuju puncak hukuman terburuk bagi umat Yahudi. Allah akan mengangkat mereka yang berperan sebagai pemain besar dalam drama tersebut: Ya’juj-Ma’juj dan Dajjal al-Masih Palsu.

8. Kebutaan spiritual umat Yahudi saat tiba waktunya hukuman final Allah Maha Tinggi telah memastikan sendiri bahwa umat Yahudi dan umat yang tidak beriman di dunia, tidak akan mampu menyadari kenyataan dari keadaan mereka sendiri: 

“Aku akan memalingkan mata orang-orang yang menyombongkan diri tanpa alasan yang benar di bumi dari Tanda-tanda-Ku, sehingga bahkan jika mereka melihat setiap Tanda, mereka tidak akan beriman padanya. Jika mereka melihat jalan yang benar yang membawa mereka pada petunjuk, maka mereka tidak akan menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan maka mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mengingkari Ayat-ayat Kami dan mereka lalai terhadapnya.” (al-Qur’an, al-’Araf, 7: 146) 

Pemain besar dalam drama Zaman Akhir tidak lain adalah al-Masih Palsu, Dajjal. Alat paling penting yang Allah Maha Tinggi berikan kepada Dajjal (untuk menyelesaikan misinya) adalah ‘mata satu’-nya. Dajjal buta pada mata kanannya, dan hal itu menandakan kebutaan mata hati internal spiritualnya. Semua orang yang ditipu olehnya adalah mereka yang buta secara spiritual dan karenanya tidak mampu melihat dan mengenali Tanda-tanda Allah pada Zaman Akhir. Ini akan berlanjut hingga kembalinya al-Masih Asli, ‘Isa (Jesus) putra
Maryam.

9. Ditemukannya jenazah Fir’aun yang menandakan bahwa umat Yahudi akan mengalami nasib yang sama seperti yang dia alami Al-Qur’an menyediakan Tanda lain untuk menunjukkan bahwa hitungan mundur bagi kehancuran Israel pada Zaman Akhir sekarang telah dimulai dan bahwa hukuman terburuk akan ditimpakan Allah Maha Tinggi kepada mereka. Tanda Tuhan tersebut adalah ditemukannya jenazah Fir’aun yang telah ditenggelamkan saat dia berusaha menyeberangi Laut Merah untuk mengejar Musa (‘alayhi salam). Allah Maha Tinggi telah membelah lautan untuk menyelamatkan Bani Israel. Dan setelah mereka menyeberang dengan selamat, Dia menurunkan air laut yang menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya. Al-Qur’an menyebutkan hal ini: 

“Dan ingatlah saat Kami membelah laut untuk kalian dan menyelamatkan kalian dan menenggelamkan orang-orang Fir’aun di hadapan pandangan kalian.” (al-Qur’an, al-Baqarah, 2: 50) 

Bani Israel tidak mengetahui dan masih tidak mengenali bahwa mereka sendiri suatu hari akan dihancurkan dengan cara yang sama seperti Fir’aun jika mereka mengkhianati Allah Maha Tinggi dan melakukan dosa-dosa tertentu. 

Bagaimana Fir’aun mati? Para pembaca yang terhormat mungkin terkejut jika membaca ayat al-Qur’an mengenai kematian Fir’aun: 

“Kami selamatkan Bani Israel menyeberangi lautan, kemudian Fir’aun dan pasukannya mengikuti mereka dengan keangkuhan dan kedengkian. Akhirnya saat diliputi dengan air, dia berkata: (sekarang) Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang diimani Bani Israel, aku adalah termasuk orangorang yang berserah diri (kepada Allah Maha Tinggi, kepada Islam).” “(Dikatakan kepadanya): Mengapa baru sekarang! Padahal sesaat yang lalu, kamu dalam (keadaan) durhaka! Dan kamu melakukan penindasan (dan kekejaman)!” 

“Maka hari ini (Kami memutuskan bahwa), Kami akan menyelamatkan jasadmu (Kami akan menjaga jenazahmu), sehingga kamu (jenazahmu saat ditemukan) dapat menjadi Tanda bagi orang-orang yang datang setelahmu! Tetapi sesungguhnya, kebanyakan manusia tidak mengindahkan Tanda-Tanda Kami!” (al-Qur’an, Yunus, 10: 90-92)

“Maka saat mereka terus menentang Kami, Kami menimpakan balasan Kami kepada mereka dan menenggelamkan mereka semua.” 

“Maka Kami jadikan mereka kaum dari masa lalu dan suatu pelajaran untuk orang-orang yang datang setelah mereka.” (al-Qur’an, az-Zukhruf, 43: 55-56) 

Dengan demikian, al-Qur’an membuat nubuat bahwa jenazah Fir’aun eksodus suatu hari akan ditemukan, dan menjadi tanda dari Tuhan. Secara menakjubkan, jenazah Fir’aun tersebut ditemukan pada saat mendekati akhir abad ke-18 M. Bahkan, itu adalah Tanda yang lebih tidak menyenangkan bagi umat Yahudi karena Gerakan Zionis pun dibentuk pada waktu yang berdekatan dengan ditemukannya jenazah Fir’aun tersebut. Jelas bahwa Dajjal al-Masih Palsu adalah dalang di balik pembentukan Gerakan Zionis. Dan dengan begitu, Zaman Ya’juj dan Ma’juj pun adalah Zaman Dajjal.

Dampak dari hal di atas adalah umat Yahudi sekarang dipandu oleh Dajjal al-Masih Palsu dan oleh Ya’juj dan Ma’juj pada jalan menuju hukuman terburuk yang akan menimpa mereka dan akan memuncak dengan kehancuran yang ditakdirkan Tuhan. Akhir yang akan datang kepada mereka adalah sama seperti akhir yang datang kepada Fir’aun. Akhir yang bagaimanakah itu?

Penemuan jenazah Fir’aun adalah Tanda yang penting dari Allah Maha Tinggi bahwa dunia saat ini akan menyaksikan drama terbesar yang pernah ada dalam kehidupan nyata manusia. Waktu sudah habis bagi umat Yahudi secara khusus dan bagi seluruh umat manusia pada umumnya. Orang-orang yang hidup seperti Fir’aun sekarang akan mati dengan cara yang sama seperti Fir’aun mati.

10. Umat Yahudi tidak akan mempunyai pilihan kecuali mempercayai ‘Isa sebagai al-Masih saat dia kembali tetapi hal itu sudah terlambat untuk menyelamatkan mereka dari hukuman yang mengerikan dan dari api nereka Setelah al-Qur’an menceritakan peristiwa umat Yahudi yang berusaha menyalib ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) dan kemudian berseru dengan sombong bahwa mereka telah membunuhnya, Allah Maha Tinggi menyampaikan peringatan yang paling tidak menyenangkan. Umat Yahudi yang menolak ‘Isa (‘alayhi salam) sebagai al-Masih (dan umat Kristen yang menyembah ‘Isa (Jesus) sebagai Tuhan) diperingatkan bahwa mereka akan percaya padanya (‘Isa) sebelum ‘Isa (‘alayhi salam) mengalami Maut, yaitu setelah ‘Isa (‘alayhi salam) kembali dan sebelum ‘Isa (‘alayhi salam) mati. Maka dari itu, umat Yahudi akan percaya bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) adalah al-Masih dan umat Kristen akan berhenti menyembahnya sebagai Tuhan dan mengakuinya sebagai seorang Nabi: 

“dan tidak akan ada Ahli Kitab kecuali akan percaya padanya sebelum kematiannya; dan pada Hari Penghakiman dia akan menjadi saksi terhadap mereka.” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:159) 

Ayat di atas menandakan bahwa saat ‘Isa (‘alayhi salam) kembali, umat Yahudi tidak hanya akan mengakui dan menegaskan keimanannya pada ‘Isa sebagai al-Masih, tetapi juga akan, sebagai dampaknya, mengakui dan menegaskan keimanannya pada Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) sebagai Nabi terakhir yang diutus Tuhannya Ibrahim, dan al-Qur’an sebagai ‘Kitab Wahyu Tuhan’ yang terakhir. Tetapi penegasan menit terakhir itu tidak akan bermanfaat bagi umat Yahudi seperti pengakuan iman pada menit terakhir hidup Fir’aun yang tidak bermanfaat baginya. Itulah pesan yang tidak menyenangkan bagi umat Yahudi yang muncul sebagai akibat dari penemuan jenazah Fir’aun!

Dampak yang lebih jauh, penting bagi pemahaman yang benar mengenai proses kehidupan dunia yang bergerak menuju puncak, adalah bahwa umat Yahudi dan orang-orang yang tidak beriman akan tetap sepenuhnya diyakinkan sampai saat terakhir sebelum puncaknya, bahwa mereka berada di jalan keberhasilan. Dan di dunia pada Zaman Akhir, Tuhan menakdirkan Kebenaran Islam adalah sesuatu yang dianggap oleh pengamatan eksternal telah gagal.


Misteri Kembalinya Yahudi Ke Tanah Suci Palestina Setelah 2000 Tahun Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Syuqi Hamada

0 comments:

Post a Comment