Friday, September 30, 2016

Kenapa Yahudi Membenci Islam dan Bangsa Arab

Bangsa Yahudi dan Bangsa Arab

Kenapa Yahudi Membenci Islam

“Pasti kamu dapati (lagi dan lagi) bahwa dari semua umat manusia, yang paling keras memusuhi orang-orang beriman (umat Muslim) adalah umat Yahudi dan orang-orang Musyrik (mereka yang menyekutukan Tuhan, yang menyembah berhala atau umat pagan); dan yang paling dekat dan mencintai orang-orang beriman adalah mereka yang mengatakan, “Kami adalah umat Kristen, karena di antara orang-orang ini terdapat orang-orang yang mencurahan diri untuk belajar dan orang-orang yang meninggalkan kenikmatan duniawi, dan mereka tidak menyombongkan diri.” (al-Qur’an, al-Maidah, 5: 82)

Sebelum kami kembali pada penjelasan nubuat yang mulai terwujud, bahwa Allah Maha Tinggi akan membawa umat Yahudi kembali ke Tanah Suci saat ‘hitungan mundur’ waktu untuk penghukuman mereka dimulai, penting bagi kami memperhatikan subjek ‘Ismail (‘alayhi salam), Bangsa Arab, dan Tanah Suci’. Subjek ini penting karena Gerakan Zionis merestorasi Negara Israel dengan memaksa warga Arab keluar dari Tanah dan rumah mereka. Zionis tidak akan berani melakukan hal tersebut tanpa pembenaran berdasarkan al-Kitab.

Bagaimanapun pembenaran berlandaskan al-Kitab tersebut adalah fitnah dan kebohongan yang dilakukan atas nama Tuhan-nya Ibrahim (‘alayhi salam). Zionis tahu bahwa itu adalah fitnah dan mereka memanfaatkan hal tersebut sepenuhnya. Subjek itulah yang akan kami bahas pada bab ini.

Pandangan Religius Yahudi terhadap Bangsa Arab Pemimpin spiritual Shas Ortodoks Yahudi Israel diberitakan dalam pidatonya pada 5 Agustus 2000, menyatakan: “Ismailiyat (keturunan Ismail yakni bangsa Arab) semuanya penjahat terkutuk, semuanya musuh Israel. Yang Maha Suci, puji bagi-Nya, menyesal telah menciptakan Ismailiyat ini.” Berita tersebut menggambarkan Rabi Ovadia Yosef meledek usaha pemerintah Israel, Barak, yang mencapai suatu persetujuan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO–Palestine Liberation Organization) mengenai Kota Sakral Jerusalem. “Mengapa kita berbagi Kota Suci?” dia bertanya, “agar mereka mendapat kesempatan untuk membunuh kita? Mengapa pula kita butuh mereka di samping kita?” Menegur Perdana Menteri Israel, Barak, Rabi tersebut menambahkan, ”Anda membawa ular-ular mendekati kita. Bagaimana Anda dapat berdamai dengan ular? …Barak memasukkan keturunan Ismail jahat … Dia akan mebawakan kepada kita ular-ular tinggal di samping kita di Jerusalem. Dia tidak masuk akal.” Surat kabar The Jerusalem Post melaporkan ucapan Rabi tersebut disambut dengan tepuk tangan. (lihat www.jerusalempost.com – 5 Agustus 2000).

Satu alasan sikap permusuhan Rabi kepada bangsa Ismailiyat dan klaim mereka pada Jerusalem adalah ayat Kitab Kejadian dalam Taurat yang menyatakan Ismail adalah: “…Seorang laki-laki yang kelakuannya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawannya.” (Kejadian [Genesis], 16: 12) 

Dengan demikian, Rabi dan pengikutnya berargumen bahwa penindasan yang tak berbelas kasih dan semakin meningkat terhadap warga ras Arab oleh Negara Israel dibenarkan sebagai suatu bentuk hukuman Tuhan seperti yang disampaikan oleh kata-kata, “tangan tiap-tiap orang melawannya”. Bagaimana lagi orangorang beradab di bagian dunia lain dapat menjelaskan kekejaman dan keliaran serangan Israel pada perkemahan pengungsi di Jenin? Tidakkah umat Yahudi telah menulis ulang Taurat dengan tambahan kebatilan melawan Ismail (‘alayhisalam) putra Ibrahim? Hal tersebut lebih memudahkan kita untuk mengenali bahwa penipuan terlibat dalam rencana jahat Zionis merebut Tanah Suci dari Muslim-Arab guna merestorasi Negara Israel.

Kenapa Yahudi Membenci Islam

Gambaran Ismail (‘alayhi salam), Nabi Allah Maha Tinggi yang ada dalam al-Qur’an, dengan jelas mengungkap pernyataan Taurat tersebut adalah dusta terhadap Allah Maha Tinggi:

“Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Kitab (al-Qur’an), sesungguhnya, dia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi.” “Dia selalu mengajak kaumnya sholat dan menunaikan zakat dan dia adalah seorang yang diridai (sangat diterima) di sisi Tuhannya.” (al-Qur’an, Maryam, 19: 54-55)

“Dan ingatlah Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli: Mereka termasuk orang-orang yang paling baik.” “Ini adalah Pesan (peringatan), dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa disediakan tempat kembali (terakhir) yang baik.” (al-Qur’an, Shad, 38: 48-49)

“Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim (guna) menghadapi kaumnya. Kami tinggikan kedudukannya beberapa derajat; karena Tuhanmu Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.”

“Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub, semuanya (ketiganya) Kami beri petunjuk; dan sebelumnya Kami telah beri petunjuk kepada Nuh dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun …”

“dan Zakariya dan Yahya dan ‘Isa dan Ilyas: semuanya termasuk orang-orang yang saleh.” 

“dan Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Lut: semuanya Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain.”

“(Dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari leluhur mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi Nabi dan Rasul). Dan mereka telah Kami beri petunjuk ke jalan yang lurus.”

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami beri Kitab, Hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (keturunan mereka) menolaknya, maka Kami akan mempercayakan tugas mereka kepada umat yang baru yang tidak akan menolaknya.”

“Mereka adalah (Nabi-nabi) yang menerima petunjuk Allah, menyampaikan petunjuk yang mereka terima…”

“Persangkaan tidak benar terhadap Allah yang mereka buat saat mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia (dengan cara menurunkan wahyu).” Katakanlah, “Maka siapa yang menurunkan Kitab yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia? Tetapi kalian membuatnya menjadilembaran-lembaran yang bercerai-berai, kalian memperlihatkan (sebagiannya) sedangkan yang kalian sembunyikan lebih banyak lagi …”

“Dan ini (al-Qur’an) adalah Kitab yang Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan Kitab-kitab (penurunan wahyu) yang datang sebelumnya, sehingga engkau dapat memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang ada di sekitarnya …” (al-Qur’an, al-An’am, 6: 83-92)

Rabi harus hati-hati pada peringatan mengerikan dalam al-Qur’an ini bagi orang-orang yang membuat kebohongan terhadap Allah Maha Tinggi termasuk kebohongan mengenai Ismail dan keturunannya yakni bangsa Arab.

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mengatakan, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, atau (lagi) yang menyatakan, “Aku dapat menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” (Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat bagaimana orang-orang zalim (mengalami) kesakitan saat menjemput ajal! Malaikat-malaikat memukul dengan tangannya, (berkata) “Keluarkanlah jiwamu! Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri menolak Tanda-tanda-Nya!” (al-Qur’an, al-An’am, 6: 93)

Rabi dan orang-orang yang memiliki kepercayaan berlandaskan kepalsuan dalam Taurat yang seperti itu, hidup dalam dunia yang tidak nyata. Persepsi mereka tentang kenyataan adalah sesat dan menyimpang. Bahaya yang telah dibuat dan masih dipelihara, adalah kepercayaan yang salah mengenai Ismail (‘alayhi salam) di atas. Taurat tidak pernah menunjukkan bukti apapun mengenai kejahatan, kelakuan tidak senonoh, atau kedurhakaan sebagai bagian dari Ismail (‘alayhi salam) yang dapat membenarkan penghukuman kejam yang katanya dari Tuhan tersebut. Melainkan, Ismailiyat yang sama yang sekarang Rabi memandangnya rendah sebagai ‘ular’ telah menawarkan kepada umat Yahudi tempat tinggal di antara mereka selama dua ribu tahun. Mereka menikmati keamanan hidup dan hartanya dan menerima kebebasan hidup dan beribadah sebagai umat Yahudi di tengah-tengah masyarakat Arab.

Orang-orang yang membantu dan masih membantu pembentukan Negara Israel Gadungan berlandaskan ketidakadilan dan penindasan, adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan spiritual. Kebutaan spiritual yang sama membuat mereka tidak mampu mengenali negara gadungan ini. Kebutaan spiritual itu juga yang membuat mereka menyatakan bahwa Maryam telah melakukan perzinahan, bahwa ‘Isa (Jesus) al-Masih adalah anak haram, dan bahwa klaimnya sebagai al-Masih adalah bohong. Itu juga membuat mereka melakukan perbuatan paling jahat dan memalukan dalam sejarah, yaitu berusaha menyalib ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam), dan kemudian menyeru dengan bangga bahwa mereka berhasil membunuhnya. Kebutaan spiritual itu mengakibatkan mereka menolak Nabi Terakhir yang diutus kepada seluruh umat manusia oleh Tuhan-nya Ibrahim, yaitu Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam). Itu membuat mereka menolak al-Qur’an sebagai Firman Tuhannya Ibrahim, Yang Maha Tinggi. Kebutaan spiritual mereka telah membawa mereka, lagi dan lagi, melakukan perbuatan yang membangkitkan murka Allah Maha Tinggi. Tingkah laku rasial secara finansial, dan ekonomi mereka saat ini sungguh sangat buruk.

Saat mereka menghina Musa (‘alayhi salam), dulu kala, dan menyatakan bahwa dia dengan Tuhan-nya harus berperang (untuk membebaskan Tanah Suci) sedangkan mereka tetap duduk di tempat, Allah Maha Tinggi merespon tingkah laku yang sangat buruk ini dengan mengharamkan Tanah Suci bagi mereka selama 40 tahun, dan dengan mengasingkan mereka sehingga mereka berkeliaran dalam kebingungan di muka bumi. Kemudian Allah Maha Tinggi menegur Musa (‘alayhi salam) dan berkata kepadanya, ”Janganlah engkau bersedih hati karena orang-orang yang berdosa ini.” Tidak ada rasa simpati dalam Firman tersebut.

Bahkan jika dunia ini tidak memiliki al-Qur’an yang menunjukkan kepalsuan yang ditulis dalam Taurat, pengetahuan spiritual cukup bagi pengikut-pengikut Taurat dan al-Kitab untuk memahami ketidakbenaran pernyataan yang berkaitan dengan Ismail (‘alayhi salam). Begitulah mereka tidak layak mendapatkan simpati pada saat itu, dan untuk alasan yang sama, mereka pun tidak layak mendapatkan simpati pada saat ini.

Waktu mereka telah habis. Takdir mereka sudah ditetapkan. Mereka telah tertipu dalam penipuan terbesar dalam sejarah manusia, ditipu untuk meninggalkan tanah mereka di mana mereka telah hidup di antara ras Ismailiyat Arab dengan damai, aman, dan jaminan kebebasan beragama selama dua ribu tahun (di Yaman, Maroko, Mesir, Iran, Irak, Suriah, dll.) untuk kembali ke Tanah Suci mendukung penindasan dan ketidakadilan. Dengan begitu tidak menyenangkan, penindasan tersebut meningkat hari demi hari. Umat Muslim tidak menipu mereka. Umat Muslim tidak mengundang mereka untuk kembali. Al-Qur’an menyatakan bahwa Tuhannya Ibrahim sendiri telah menakdirkan kembalinya mereka. Tuhan yang sama, Maha Tinggi yang dua kali menakdirkan kehancuran Tempat Ibadah yang dibangun oleh Sulaiman (‘alayhi salam) akan memastikan sendiri kehancuran Negara Israel Gadungan itu. Hal tersebut akan terjadi dan tidak dapat dihindari, hukuman terberat Tuhan yang belum pernah ditimpakan kepada umat apapun dalam sejarah akan terjadi di depan mata mereka yang ketakutan. Biarkan Rabi mengambil peringatan! Persepsi menyimpang yang dengan jelas dapat dikenali dalam pernyataan Rabi, dapat terlihat pula dalam dua partner negosiasi, yang telah bernegosiasi dalam suatu pelaksanaan yang sia-sia mengenai masa depan Jerusalem dan Tanah Suci, yaitu PLO dan Negara Israel. Dalam kasus mereka, keduanya menunjukkan ketidakpedulian total atau mengabaikan al-Qur’an dan Taurat sebagai sumber petunjuk mengenai masalah tersebut. Mereka lebih mirip satu sama lain daripada menganut agama Islam atau Yahudi. Mereka berdua adalah gerakan nasionalis sekuler yang mengeksploitasi agama. Nasionalis sekuler tidak memiliki hasrat untuk mencari Kebenaran Mutlak.

Mungkin beberapa kompromi yang cerdik dapat dicapai terkait keinginan Palestina pada bagian timur Jerusalem sebagai ibu kota Negara Palestina mereka. Tetapi jika dan saat Negara Palestina tersebut terbentuk, negara itu akan menjadi bentuk tiruan Negara nasionalis sekuler Yahudi Israel. Kemudian Tanah Suci akan dikuasai Tatanan Dunia Syirik yang muncul dari Peradaban Barat Modern. Syirik adalah perbuatan yang dilakukan saat kedaulatan ada pada negara bukan pada Allah Maha Tinggi! Syirik dilakukan saat negara diberi kekuasaan tertinggi dan saat hukum negara menjadi hukum tertinggi!

Pertunjukkan Syirik paling terang-terangan yang pernah kami temui adalah anjuran pemerintah Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik antara Pemerintah Israel dan PLO mengenai letak Masjid yang dibangun Sulaiman (‘alayhi salam), sekarang dikenal Muslim adalah al-Haram asy-Syarif, dan bagi umat Yahudi adalah Gunung Kuil. Amerika Serikat berencana memberikan ‘kedaulatan’ atas Tembok Bagian Barat (atau ‘Tembok Ratapan’) kepada Negara Israel. Umat Yahudi mengenalinya sebagai sisa Kuil (Tempat Ibadah) asli yang dibangun Sulaiman (‘alayhi salam). Negara Palestina, di pihak yang lain, memiliki ‘kedaulatan’ atas Masjid al-Aqsa dan Masjid Umar. Dan Tuhannya Ibrahim (‘alayhi salam) akan dipuaskan dengan memiliki ‘kedaulatan’ atas sisa dari al-Haram asy-Syarif.

Syirik dilakukan saat negara menyatakan Halal apa yang dinyatakan Haram oleh Allah Maha Tinggi, dan sebaliknya. Hal itu sepasti matahari terbit dari timur bahwa Negara Palestina pada masa depan akan mengijinkan perjudian dan lotere dan bahkan akan membentuk lotere yang didukung negara. Negara akan mengijinkan Riba, memberikan pinjaman dan meminjam uang dengan bunga.

Negara akan mengijinkan konsumsi alkohol. Dengan kata lain, Negara Palestina akan menganut Syirik yang sama persis dengan Negara Yahudi dan bagian dunia lain (termasuk juga dunia Muslim) yang telah melakukannya. Negara Palestina yang dibentuk oleh PLO juga akan menimpakan kepada masyarakatnya dekadensi yang sama yang sekarang meliputi Negara sekuler Yahudi juga bagian dunia lainnya.

Muslim tidak bisa, dan seharusnya jangan, memberikan dukungan pada persetujuan apapun seperti Rencana Saudi sekarang ini yang mencoba mengakui Negara nasionalis sekuler Israel dan menerima penindasan lima puluh tahunnya kepada warga pribumi Palestina, umat Kristen juga Muslim. Jangan pula umat Muslim menerima pembentukan Negara Palestina di Tanah Suci yang akan menjadi replika Negara Yahudi. (Yang harus umat Muslim terima adalah pembentukan Khilafah Islam [penerj.]).

Buku ini juga menjelaskan kenyataan bagi umat Yahudi yang dengan begitu saja menerima nasionalis sekuler Israel sebagai wakil dari negara mulia yang dibentuk oleh Daud (‘alayhi salam) dan Sulaiman (‘alayhi salam). Negara Israel ini adalah satu kepalsuan yang telah menipu umat Yahudi. Dr. Ismail Raji al-Faruqi, sarjana Islam Palestina yang terang-terangan mengecam Israel, dan yang dibunuh dalam kegelapan, menggambarkan Israel sebagai “sebuah perusahaan penjajah”, “menyusun makar dalam dosa”, “dibentuk atas konsep misi dan karakter nasional yang usang”, dan “kekuatan militer yang menindas warga pribumi”. Warga pribumi Arab yang dipaksa keluar dari rumah mereka atau pergi karena teror adalah warga yang menyembah Tuhannya Ibrahim. Namun, bahkan saat umat Yahudi telah mendapatkan kekuasaannya atas Tanah Suci, mereka menolak untuk mengundang para pengungsi Palestina tersebut kembali ke rumah mereka atau mengijinkan mereka kembali ke rumahnya sendiri. Sampai hari ini, lebih dari lima puluh tahun sejak pembentukannya, Negara Yahudi tetap menolak para pengungsi Palestina kembali ke rumah mereka dan malah meluaskan ajakan terbuka kepada umat Yahudi, di manapun mereka berada di dunia, untuk datang dan tinggal di Tanah Suci. Hal ini bukanlah perilaku yang baik!

Nubuat Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) menandakan bahwa Negara Zionis Israel pada akhirnya akan mengkhianati Bani Israel dan melemparnya ke hadapan orang-orang yang tanpa henti-hentinya ditindas Israel dengan penindasan terang-terangan dan tanpa rasa malu. Yassir Arafat juga seorang penipu yang tidak mewakili penduduk Palestina yang direbut rumahnya dan tanpa henti-hentinya ditindas Israel selama lebih dari lima puluh tahun. Banyak penduduk Palestina yang tinggal di kemah di Lebanon dan di tempat lainnya selama lebih dari lima puluh tahun. Arafat dapat mengkhianati mereka seperti Israel mengkhianati umat Yahudi. Orang-orang yang dikhianati Arafat pada akhirnya akan berada di barisan depan pasukan Muslim yang akan melawan dan menghukum warga Yahudi di Tanah Suci saat Negara Israel meninggalkan mereka. Pasukan Muslim tersebut telah menunjukkan keahlian perangnya di Lebanon Selatan. Dan penarikan pasukan Israel dari Lebanon Selatan yang secara efektif meninggalkan pasukan Kristen di wilayah itu (setelah berperang demi Israel) adalah awal dari peristiwa lebih dramatis yang akan terjadi.

Penindasan ras Arab Ismailiyat oleh Negara sekuler Yahudi Israel secara dramatis meningkat dalam bentuk penindasan religius, politik, dan ekonomi di Tanah Suci. Penindasan tersebut masih terus meningkat. Dalam keadaan inilah, sekarang kita dapat memahami nubuat tidak menyenangkan dari Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) yang menyatakan:

“Kamu pasti akan memerangi umat Yahudi, dan kamu pasti akan membunuh mereka, (dan ini akan berlanjut) hingga (bahkan) batu akan berbicara: Wahai Muslim! Ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, datang dan bunuhlah dia!” (Sahih Bukhari)

Kenapa Yahudi Membenci Islam dan Bangsa Arab Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Syuqi Hamada

0 comments:

Post a Comment