Saturday, September 17, 2016

Kemunculan Dajjal dan Misteri Jerusalem, ‘Kota’ dalam al-Qur’an

Siapa Dajjal dan Apa Hubungannya dengan Misteri Jerusalem, ‘Kota’ dalam al-Qur’an

“Dan ada larangan pada (penduduk) ‘Kota’ (Qaryah) yang telah Kami hancurkan, bahwa mereka (penduduk kota itu ) tidak akan kembali (untuk memiliki Kota mereka lagi), hingga apabila Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) dilepaskan dan (kemudian) mereka turun berkerumun dengan cepat dari setiap ketinggian (atau menyebar ke segala arah).” (al-Qur’an, al-Anbiyah, 21:95-96) (Ketika Ya’juj dan Ma’juj melakukannya, maka mereka menguasai dan mengendalikan dunia dalam Tatanan Dunia Ya’juj dan Ma’juj).

Hal yang aneh, misterius, dan penuh dengan teka-teki, bahwa nama kota ‘Jerusalem’ (dalam bahasa Arab ‘Quds’ atau ‘Bait al-Maqdis’) tidak muncul dalam al-Qur’an! Tetapi, banyak Nabi-nabi yang disebutkan dalam al-Qur’an berkaitan dengan Kota Suci itu, dan di dalamnya terdapat satu-satunya Rumah Allah yang lain, terpisah dari yang ada di Mekah dan Madinah, yang pernah dibangun oleh Nabi Allah Maha Tinggi. Tidak hanya Rumah Allah (Masjid al- Aqsa) disebutkan dalam al-Qur’an, tetapi disebutkan pula mukjizat perjalanan malam yang dialami Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) dari Mekah ke Jerusalem dan ke Rumah Allah itu. 

Mungkin alasan dari perlakuan misterius ini adalah karena pandangan Islami bahwa Jerusalem ditakdirkan memainkan peran penting pada Zaman Akhir. Dengan demikian, mungkin Tuhan hendak menutupi nama Kota itu, juga takdirnya, dengan Selubung Suci yang tidak akan diangkat sampai tiba saat yang tepat. Jerusalem telah terdiam tenang dan sekarang siap memainkan perannya dalam Akhir Sejarah. Hal ini, mungkin, menjelaskan masalah tentang hampir tidak adanya literatur Islami mengenai topik takdir Jerusalem. Sesuatu yang Dr. Ismail Raji al-Faruqi maksudkan saat dia menyesalkan: “Sayangnya, tidak ada literatur Islami yang membahas topik ini” (lihat bab 1). 

Kenyataannya adalah tidak ada yang dapat menulis tentang topik tersebut hingga tiba waktu yang tepat saat selubung penutup diangkat. Buku ini ditulis atas keyakinan bahwa sekarang selubung penutup tersebut telah diangkat. Saat umat Yahudi menolak ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) sebagai al-Masih lalu menyombongkan diri bahwa mereka telah membunuhnya (lihat al-Qur’an, an-Nisa, 4:157), mereka tetap menunggu dengan yakin kedatangan al-Masih (lain) yang dijanjikan (dan dengannya akan kembali Masa Emas atau kejayaan Yahudi). Mereka percaya bahwa kembalinya Masa Emas mensyaratkan, di antaranya halhalsebagai berikut:

bahwa Tanah Suci akan dibebaskan dari kekuasaan umat kafir,
bahwa setelah pengasingan, umat Yahudi akan kembali ke Tanah Suci untuk memilikinya lagi,
bahwa Negara Israel akan direstorasi,
bahwa Tempat Ibadah akan didirikan kembali untuk penyembahan (umat Yahudi) pada Tuhan-nya Ibrahim
bahwa Israel pada akhirnya akan menjadi Negara Penguasa di dunia dengan cara yang sama seperti yang dicapai pada masa Nabi Daud (‘alayhisalam) dan Sulaiman (‘alayhi salam),
bahwa Raja Yahudi, yang akan menjadi al-Masih, akan memerintah dunia dari tahta Nabi Daud (‘alayhi salam), dan akhirnya
kekuasaannya akan abadi. Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) menyatakan bahwa satu dari tanda-tanda besar Hari Kiamat adalah Allah Maha Tinggi akan menipu umat Yahudi dengan mengangkat dan mengutus seseorang yang akan menyamar sebagai al-Masih dan membimbing mereka untuk meyakini bahwa Masa Emas (Golden Age) telah kembali.

Padahal al-Masih Palsu itu dengan tipu daya yang sangat besar akan membimbing mereka menuju hukuman Tuhan paling keras yang ditimpakan pada makhluk Allah. Al-Masih al-Dajjal, atau Dajjal al-Masih Palsu yang dikenal oleh umat Kristen sebagai Anti-Kristus telah diciptakan Allah Maha Tinggi dan akan dilepaskan ke dunia pada Zaman Akhir untuk menunaikan misi tersebut. Sekarang pertimbangkan hal-hal berikut:

Tanah Suci dibebaskan dari umat Muslim (yang menurut sudut pandang Yahudi adalah umat kafir) ketika Jenderal Inggris, Allenby, menaklukan Jerusalem pada 1917.
Umat Yahudi Bani Israel ‘telah kembali’ untuk memiliki Tanah Suci lagi setelah Tuhan menakdirkan dua ribu tahun pengasingan mereka. Yang demikian itu tepat seperti yang al-Qur’an nyatakan 1400 tahun lalu bahwa hal ini akan terjadi pada ‘Zaman Akhir’. Umat Yahudi Kaukasian di Amerika Serikat dan di mana pun tampaknya ditakdirkan segera ke sana,
Negara Israel ‘direstorasi’ pada 1948 dan diakui sebagai kebangkitan Negara Israel Nabi Daud (‘alayhi salam) dan Sulaiman (‘alayhi salam),
Israel dipersenjatai lengkap dengan nuklir, senjata yang tampaknya dimaksudkan untuk membangkitkan Intifada Palestina, dan tragedi 11 September 2001, saat Mossad (badan intelijen Israel) menyerang Amerika Serikat (yang dampaknya menciptakan keadaan yang menguntungkan bagi Israel) dan dengan perang, Israel akan menantang Amerika Serikat, Eropa, PBB, dan seluruh bagian dunia lainnya, untuk mengendalikan seluruh wilayah yang ditempati mereka. Perang Israel tersebut akan memperluas wilayah Israel seperti yang dijanjikan dalam Taurat, yaitu dari Sungai Mesir sampai Sungai Eufrat. Dengan keberhasilan dalam aksi menantang seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, dan dengan prediksi runtuhnya dolar dan ekonomi Amerika Serikat, Euro-Israel pada akhirnya akan lepas dari ketergantungannya, yang pertama pada Inggris dan kemudian pada Amerika Serikat. Negara Euro-Yahudi pada akhirnya akan menggantikan Amerika Serikat dan Inggris sebagai Negara Adidaya secara militer dan finansial di dunia;

Prediksi kehancuran Masjid al-Aqsa dan pembangunan Tempat Ibadah Yahudi di lokasi tersebut akan menjadi kenyataan. Nabi Natan pernah menyatakan: “al-Masih akan membangun Rumah untuk Tuhan.” (I Tawarikh, [I Chronicles], 17:11-15), dijadikan dalil untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa yang ada sekarang. 

Semua ini tampak sangat meyakinkan bagi umat Yahudi sebagai terwujudnya nubuat mengenai kembalinya Masa Emas ketika Sulaiman (‘alayhi salam) menguasai dunia dari Jerusalem. Dari sudut pandang buku ini, walau bagaimana pun, hal-hal di atas tidak akan dapat tercapai tanpa campur tangan Dajjal al-Masih Palsu. Dengan demikian, semua hal di atas mengandung tipu daya. 

Negara Suci Israel (yang pertama didirikan oleh Nabi Sulaiman [‘alayhi salam]) masih belum direstorasi. Melainkan, Israel palsu berada di tempat Israel asli. Hal ini jelas bagi penulis bahwa selubung penutup telah diangkat dan Zaman Akhir telang datang. Mungkin itulah alasan mengapa menulis buku ini dapat dilakukan pada masa ini. Al-Qur’an menjelaskan semua hal di atas. 

Al-Qur’an menunjuk Jerusalem, berkali-kali, sebagai ‘Kota’ atau ‘Negeri’ (Qaryah) – tanpa menyebut namanya. Hal ini tampak sebagai selubung Tuhan untuk menutupi peran Jerusalem hingga Zaman Akhir tiba. Contohnya, al-Qur’an menceritakan kejadian ketika umat Yahudi Bani Israel menyembah anak sapi emas sementara Nabi mereka, Musa (‘alayhi salam) pergi ke Gunung Sinai untuk memenuhi panggilan Tuhan. Al-Qur’an memperingatkan bahwa penyembahan selain pada Allah Maha Tinggi akan mengakibatkan datangnya hukuman Tuhan.

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak sapi (emas, sebagai sembahannya, dan dengan demikian melakukan Syirik) kelak akan menimpa mereka Kemurkaan dari Tuhan mereka dan Kehinaan dalam kehidupan di dunia; demikianlah Kami memberikan Balasan kepada orang-orang yang membuat-buat (kebohongan terhadap Allah)…” (al-Qur’an, al-A’raf, 7:152)

Selanjutya al-Qur’an menjelaskan kejadian ketika Bani Israel masih di Sinai dan sebelum mereka dibolehkan memasuki Tanah Suci, dengan menyatakan: “Dan Kami Bagi mereka menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami Wahyukan kepada Musa ketika kaumnya (kehausan) meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami Naungkan awan atas mereka dan Kami Turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami Berfirman), “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami Rezekikan kepadamu.” (Tetapi mereka durhaka) Mereka tidak menganiaya Kami, namun merekalah yang selalu menganiaya jiwa mereka sendiri.” (al-Qur’an, al-A’raf, 7:160) 

Setelah itu al-Qur’an menunjuk Jerusalem dengan sederhana dan misterius sebagai sebuah ‘Kota’: “Dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel), “Tinggallah di ‘Kota’ ini saja (Baitul Maqdis yakni Jerusalem) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki. Dan katakanlah kata rendah hati dan masukilah pintu gerbangnya dengan berendah hati…” (al-Qur’an, al-A’raf, 7:161) Ada lagi misteri Jerusalem yang hanya disebut sebagai sebuah ‘Kota’ dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan ada larangan pada (orang-orang dari) sebuah Kota yang telah Kami hancurkan (dan penduduknya dikeluarkan) bahwa mereka (penduduk kota itu) tidak akan kembali (untuk memiliki Kota itu)” “Hingga apabila Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan dan (kemudian) mereka turun berkerumun dengan cepat dari setiap ketinggian (atau menyebar ke segala arah).” (al-Qur’an, al-Anbiyah, 21:95-96)

Saat turun dari setiap ketinggian, atau menyebar ke segala arah, mereka menguasai seluruh dunia dan memerintah dunia dalam Tatanan Dunia Ya’juj dan Ma’juj. Agar dapat menentukan identitas ‘Kota’ yang dimaksud di atas, kami memeriksa semua materi yang ada dalam al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan Ya’juj dan Ma’juj, dan ‘Kota’ itu adalah Jerusalem (lihat Bab 10, Bagian Satu). 

Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa ‘Kota’ yang dimaksud dalam ayat-ayat al-Qur’an di atas adalah Jerusalem! Saat kami mengenali Jerusalem sebagai ‘Kota’ itu kemudian menjadi jelas bahwa selubung yang menutupi Jerusalem dalam al-Qur’an diangkat hanya saat Ya’juj dan Ma’juj dilepas dan saat akhirnya mereka turun dari setiap ketinggian atau menyebar ke segala arah yang berarti mereka menguasai dunia dalam Tatanan Dunia Ya’juj dan Ma’juj. 

Kembalinya umat Yahudi Bani Israel ke Tanah Suci mengkonfirmasi bahwa Ya’juj dan Ma’juj telah dilepas dan telah turun dari setiap ketinggian, atau telah menyebar ke segala arah, dan maka dari itu telah mengendalikan dunia. Tatanan dunia yang sekarang menguasai dunia adalah Tatanan Dunia Ya’juj dan Ma’juj. Sesungguhnya, Ya’juj dan Ma’juj adalah pihak yang membuat umat Yahudi kembali ke Tanah Suci.

Sekarang kita dapat mengantisipasi bahaya dari rencana besar Dajjal al-Masih Palsu yang akan terus meyakinkan umat Yahudi bahwa dia membawakan kembalinya Masa Emas. Rencana besar itu tampaknya dimulai saat Dajjal beraksi dari Inggris untuk mengubah Peradaban Eropa menjadi Peradaban Pasca-Kristen
dan pada intinya tidak bertuhan (sekuler), dan ‘memberkahinya’ dengan kekuatan untuk mencapai tujuan apa pun yang dipilih untuk dikejar. Kemudian mereka menciptakan gerakan Zionis. Zionisme kemudian mendirikan Negara Israel. 

Rencana mereka sepertinya akan berlanjut untuk menjadikan umat Yahudi sebagai penguasa seluruh wilayah Tanah Suci, dan kemudian menguasai dunia. Itulah yang harus dilakukan Dajjal agar umat Yahudi menerimanya sebagai al-Masih Asli. Jika mereka menguasai suatu wilayah maka mereka juga harus menguasai harta dan airnya. Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) telah menjelaskan hubungan antara Dajjal dengan Riba, dan antara Ya’juj dan Ma’juj dengan air! Umat Yahudi Bani Israel telah kembali ke Tanah Suci.

Kembalinya mereka tidak akan mungkin terjadi tanpa Peradaban Barat Modern (dengan Inggris memainkan peran yang paling menonjol). Dan dengan demikian, sekarang menjadi jelas bahwa bukan hanya Dajjal al-Masih Palsu, yang beraksi dari Pulau Inggris, tetapi juga Ya’juj dan Ma’juj yang berlokasi di Peradaban Eropa. Dari ‘Jerusalem’ ke ‘Tanah Suci’ Misteri Jerusalem dalam al-Qu’ran dipersulit dengan kenyataan bahwa Kitab Suci kadangkala menunjuk Kota ‘Jerusalem’ semakna dengan ‘Tanah Suci’ (seperti dalam surat al-Anbiyah, 21:95-96), dan kemudian menunjuk ‘Tanah Suci’ secara misterius sama dengan ‘Jerusalem’, contohnya dalam surah Bani Israel (atau al-Isra), al-Qur’an menyatakan takdir Bani Israel bahwa mereka akan melakukan Fasad (kejahatan yang merusak) di Tanah Suci (al-Ard al-Muqaddasah) dua kali. Tetapi al-Qur’an tidak menyebutkan nama Tanah Suci dalam ayat tersebut. Melainkan, al-Qur’an menyebutnya dengan sederhana dan penuh teka-teki sebagai ‘Bumi’ atau ‘Tanah’ (al-Ard):

“Dan Kami sampaikan peringatan (yang jelas) kepada Bani Israel dalam Kitab (al-Qur’an) bahwa mereka akan melakukan Fasad dua kali di ‘Bumi’ dan berbangga diri dengan kesombongan yang besar (dan dua kali mereka akan dihukum)!” (al-Qur’an, Bani Israel, 17: 4) 

Kemudian saat al-Qur’an menyampaikan topik yang sangat penting tentang syarat-syarat dari Tuhan bagi orang-orang yang mewarisi Tanah Suci, lagi-lagi al-Qur’an menunjuknya dengan sederhana dan penuh teka-teki sebagai ‘Bumi’ atau ‘Tanah’, tidak sebagai ‘Tanah Suci’: 

“Dan sungguh, telah Kami Tulis dalam Zabur setelah Al-Zikr (Taurat yang diberikan pada Musa); ‘Bumi’ akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh!” (al-Qur’an, al-Anbiyah, 21:105) 

Akhirnya, al-Qur’an menunjuk pada kejadian ketika Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkat D’abatul Ard (Binatang Buas dari ‘Bumi’ atau ‘Tanah’): 

“Dan ketika Janji telah dipenuhi terhadap mereka (Bani Israel), Kami akan memunculkan Binatang Buas dari ‘Tanah’ untuk (menghadapi) mereka (Bani Israel). Dia akan berbicara kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia tidak meyakini dengan keyakinan yang pasti terhadap Tanda-tanda Kami.” (al-Qur’an , an-Naml, 27:82) 

“Binatang Buas dari Bumi’ atau ‘Tanah’ adalah, seperti Dajjal dan Ya’juj-Ma’juj, merupakan tanda-tanda besar Zaman Akhir. Jelas bahwa kata ‘Tanah’ atau ‘Bumi’ dengan menunjuk Binatang Buas tidak lain adalah ‘Tanah Suci’. Dengan begitu, ketika Allah Maha Tinggi siap memulai hukuman-Nya kepada umat Yahudi, Dia mengangkat seekor ‘Binatang Buas’ di ‘Tanah Suci’. ‘Binatang Buas’ ini tidak lain adalah Negara Yahudi Israel.

Selanjutnya "Kisah Para Nabi dan Jerusalem"
Sebelumnya "Akhir Zaman | Taqdir Jerusalem"

Kemunculan Dajjal dan Misteri Jerusalem, ‘Kota’ dalam al-Qur’an Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Syuqi Hamada

0 comments:

Post a Comment