Sunday, October 2, 2016

Mengapa Ayat Terakhir Dalam Alquran Berbicara Tentang Riba? Ini Jawabanya..

Wahyu Terakhir dalam al-Qur’an

Ayat Terakhir Dalam Alquran
Topik dalam wahyu terakhir al-Qur’an, Allah Maha Bijaksana memilih kembali pada topik yang telah dibahas dalam wahyu sebelumnya – dalam al-Qur’an juga dalam Taurat, Zabur, dan Injil – yakni larangan Riba. Dari Hadits, kita dapat mengetahui bahwa wahyu terakhir yang diterima Nabi yang diberkahi (shollallahu ‘alayhi wassalam) beberapa waktu sebelum kematiannya, adalah ayat-ayat dalam surat al-Baqarah (2: 279-281) yang membahas Riba:

“Umar bin Khattab berkata: Ayat terakhir yang diturunkan berkenaan dengan Riba, tetapi Rasul Allah meninggal tanpa menjelaskannya secara terperinci kepada kami; maka jauhilah Riba dan juga Ribah (yakni apapun yang menimbulkan keraguan dalam pikiran berkenaan dengan kebenarannya).” (Sunan Ibnu Majah; Darimi)

“Ibnu Abbas berkata: Wahai orang-orang beriman, takutlah pada Allah dan jauhilah sisaRiba (mulai dari sekarang) jika kalian sungguh-sungguh beriman… dan tidak seorang pun yang akan dihakimi dengan tidak adil. (al-Baqarah, 2: 279-281). Ibnu Abbas berkata: Ini adalah ayat terakhir yang diturunkan kepada Nabi.” (Sahih Bukhari)

Wahyu terakhir menegaskan aturan Nabi tentang larangan Riba dalam Khotbah al-Wada’ (Khotbah Perpisahan) di ‘Arafat. Wahyu terakhir adalah ayat-ayat dari al-Qur’an berikut ini. Kami menyebutkan keseluruhan ayat dengan penafsiran kami dalam ukuran huruf yang lebih kecil:

“Orang-orang yang membelanjakan hartanya pada siang dan malam hari, secara rahasia ataupun terbuka, mereka mendapat pahala dari sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (asalkan kekayaan dibelanjakan dengan cara yang Halal, suatu pengeluaran yang akan menstimulus kegiatan ekonomi dan meletakkan kekayaan pada peredaran).“(Di sisi lain) Orang-orang yang memakan Riba tidak akan berdiri (di hadapan Allah pada Hari Kebangkitan) melainkan seperti berdirinya orang gila karena sentuhan setan.” (hal ini karena Riba merupakan lawan dari ‘pembelanjaan atau pengeluaran’ – dalam Riba kekayaan ‘dihisap’ dari kegiatan ekonomi hingga masyarakat luas jatuh dalam kemiskinan dan kemelaratan.)

“Yang demikian itu karena mereka mengatakan bahwa bisnis jual beli dan Riba adalah sama.” (mereka berargumen bahwa ‘memberikan pinjaman uang dengan bunga’ adalah bentuk bisnis yang sah). “Padahal Allah telah menghalalkan bisnis jual beli dan mengharamkan Riba.” (Argumen mereka salah. Allah telah menghalalkan bisnis jual beli tetapi telah mengharamkan Riba. Dan dengan begitu, Riba bukanlah suatu bentuk bisnis. Ini karena sifat dasar dari transaksi bisnis yang sah adalah harus mengakui kemungkinan mendapat untung atau rugi. Saat uang dipinjamkan dengan bunga, kemungkinan rugi begitu diminimalkan bahkan hampir dihilangkan! Dengan demikian, memberikan pinjaman uang dengan bunga tidak dapat memenuhi syarat sebagai suatu transaksi bisnis).

“Barang siapa menerima peringatan (ini) dari Tuhan-nya lalu dia langsung berhenti (dari Riba), maka apa yang telah diperolehnya dahulu (Riba yang sebelumnya dia terima) urusannya terserah pada Allah.” (yakni terserah Allah untuk menghakimi dia – dia tidak akan dipaksa oleh Negara Islam untuk mengembalikan Riba yang telah dia ambil). “Tetapi barang siapa yang kembali pada itu (tetap dalam Riba, contohnya yaitu memberikan pinjaman uang dengan bunga, setelah turunnya ayat al-Qur’an ini), maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya!”

“(Dan dengan ini) Allah memusnahkan Riba, tetapi Dia menyuburkan sedekah dengan peningkatan yang berlipat-lipat.” (karena sifat inti dari Riba adalah ‘mengambil’ dan tidak ‘memberikan’ apapun sebagai balasannya, sedangkan sifat inti dari sedekah adalah ‘memberi’ dan tidak ‘mengambil’ apapun sebagai balasan).

“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang dengan keras kepala tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (dengan perbuatan dosa khususnya mengkonsumsi Riba).

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan berperilaku saleh, dan tetap menjaga sholat, dan menunaikan zakat, mereka akan mendapat pahala dari Tuhan mereka, dan mereka tidak perlu takut, dan tidak perlu bersedih.”

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah pada Allah dan tinggalkanlah sisa Riba yang belum diambil (yang kalian masih mengklaim sebagai hak kalian) jika kalian benar-benar beriman.”

“Jika kalian tidak melaksanakannya (jika kalian tetap meminjamkan uang dengan bunga bahkan setelah menyatakan diri kalian Muslim) maka waspadalah terhadap (pernyataan) perang dari Allah dan Rasul-Nya.” (waspadalah bahwa umat Muslim yang taat pada Islam akan memerangi kalian untuk membebaskan semua orang yang tertindas karena Riba).

“Tetapi jika kalian bertobat (jika kalian berhenti dari Riba) maka kalian mendapatkan (kalian berhak mengklaim) hanya jumlah pokoknya saja.” (yang telah kalian pinjamkan yakni kalian hanya mendapatkan jumlah pokoknya saja – bukan jumlah pokok ditambah sejumlah bunga, atau bukan jumlah pokok ditambah biaya layanan administrasi).

“Janganlah berlaku zalim (tidak adil) maka kalian tidak akan dizalimi (diperlakukan dengan tidak adil).” (Dalam menerima pembayaran hutang hanya jumlah pokoknya saja maka kalian akan membebaskan diri kalian dari dosa karena berlaku tidak adil terhadap orang lain, dengan melepaskan bunganya, maka kalian pun tidak akan diperlakukan oleh bentuk ketidakadilan apapun.)

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kemudahan untuk membayar hutangnya. Tetapi jika kalian mengampuninya (jika kalian menghapus hutangnya) sebagai sedekah, maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

“Dan takutlah pada hari ketika kalian (semua manusia termasuk yang memakan Riba) dikembalikan pada Allah, kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan tidak ada orang yang akan dizalimi (diperlakukan dengan tidak adil).” (al-Qur’an, al-Baqarah, 2: 274-281)

Mengapa Allah Maha Bijaksana memutuskan untuk menurunkan satu lagi wahyu pada beberapa waktu sebelum kematian Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) ? Mengapa Dia memilih waktu yang tampaknya menjadi saat terakhir untuk menurunkan wahyu tersebut? Mengapa Dia melakukan ini setelah menurunkan wahyu yang menyatakan bahwa Dia telah menyempurnakan Din dan rahmat-Nya kepada orang-orang beriman?

Pasti ada jawaban yang sangat penting untuk semua pertanyaan ini. Tampak bagi kami bahwa wahyu terakhir seperti itu hanya dapat dengan tepat digunakan untuk mengulangi suatu pernyataan yang menjadi inti dari petunjuk Tuhan.  Sebagai tambahan, itu dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian pada bagian mana keimanan orang-orang beriman akan paling mudah diserang dalam serangan yang akan dilancarkan pada masa yang datang kemudian oleh musuhmusuh Islam. Akhirnya, wahyu itu datang pada saat terakhir karena itu dianggap berkedudukan sangat penting pada Zaman Akhir. Dan Allah Maha Tahu!

Pilihan subjek Riba sebagai wahyu terakhir tampaknya merupakan peringatan paling keras dari semua peringatan bahwa Riba dapat memberikan ancaman paling serius terhadap keimanan, kebebasan, dan kekuatan orang-orang beriman. Subjek ini sangat penting karena di dalamnya mengandung potensi serangan yang paling berbahaya, dapat menghancurkan, dan merusak keimanan orang-orang beriman dan integritas kekuatan umat Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam).

Nabi Menegaskan Bahaya Terbesar Datang dari Riba Pendapat kami ini tampaknya ditegaskan oleh kenyataan bahwa Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) sendiri telah membuat nubuat, dalam sebuah Hadits yang diterima Abu Hurairah (rodhiyallahu ‘anhu) tentang keberhasilan suatu serangan yang dilancarkan melalui Riba. Itu adalah serangan yang dilancarkan dengan jelas oleh musuh-musuh Islam, dan serangan itu akan sampai kepada seluruh umat manusia, termasuk pengikut-pengikut Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam):

“Akan tiba suatu waktu,” sabda Nabi, “saat kalian tidak dapat menemukan seorang pun dari seluruh manusia yang tidak mengkonsumsi Riba. Dan jika seseorang mengaku bahwa dia tidak mengkonsumsi Riba maka uap Riba mengenainya.” (Menurut versi lain, “debu Riba mengenainya.”) (Sunan Abu Daud)

Dengan demikian, Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) membuatnya menjadi semakin jelas bahwa bahaya terbesar terhadap integritas umat dan iman orangorang beriman datang dari Riba. Hal ini ditegaskan oleh peringatan dari Allah Maha Tinggi sendiri yang memutuskan Riba sebagai subjek yang dibahas dalam wahyu terakhir.

Nubuat Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) berkenaan dengan prevalensi universal Riba saat ini sudah menjadi kenyataan. Sesungguhnya, hal itu telah menjadi kenyataan pada masa hidup kita yang malang! Tepatnya hal itu telah menjadi kenyataan selama waktu yang telah berlalu sejak Khilafah Ottoman runtuh pada 1924. Hingga tahun 1924, ekonomi Eropa kapitalis berbasis Riba tidak berhasil memasuki ekonomi dan pasar di dunia Muslim. Tetapi Eropa berhasil merayu pemerintah yang memimpin urusan umat Muslim untuk memasuki Riba. Khalifah Ottoman, contohnya, telah meminjam sejumlah besar uang dengan bunga dari bank Eropa. Kesulitan finansial dan ekonominya tumbuh sedemikian luas sehingga dia terpaksa, sebagai cara putus asa untuk mencegah keruntuhan kekaisarannya, menjadi anggota dalam sistem negara sekuler Eropa-baru. Dia melakukan ini dalam Persetujuan Damai Paris (Paris Peace Agreement) pada 1856. Tetapi balasan yang harus dia lakukan adalah mengalah pada pemeras finansial Euro-Yahudi, yakni berhenti memungut pajak Jizyah dari Ahl al-Zhimmah di seluruh wilayah Kekaisaran Ottoman. Hal itu juga sebagai bentuk balas jasa atas hutang yang diterima dan sebagai bentuk pembayaran bunga. Dengan melakukan itu, Khalifah mengkhianati Allah Maha Tinggi yang telah menetapkan pajak Jizyah dalam al-Qur’an (al-Taubah, 9: 29).

Keberhasilan bankir-bankir Euro-Yahudi menyerang Khalifah Ottoman adalah salah satu contoh klasik imperialis finansial, yang dilaksanakan melalui Riba. Henry Kissinger adalah penguasa dengan strategi sama yang akhirnya meruntuhkan superpower modern, Republik Sosialis Uni Soviet. Peristiwa itu seharusnya telah membuka mata Ulama Islam. Tetapi tidak! Akibatnya strategi yang sama terus dilakukan oleh IMF dan Bank Dunia, dan oleh banyak bank lainnya. Tidak hanya ekonomi Israel berbasis Riba, tetapi Israel juga mengajak PLO Arafat dan rezim Arab lain untuk menganut sistem ekonomi mematikan yang sama yang menjerumuskan masyarakat dalam jeratan kemiskinan, kemelaratan, dan perbudakan ekonomi. Keberhasilan pemeras finansial Euro-Yahudi menunjukkan permulaan keruntuhan model sakral pemerintahan Islam (Darul Islam) dan penggantiannya dengan model Eropa-sekuler. Dalam model negara sekuler, ‘kedaulatan’ direbut dari Allah Maha Tinggi dan malah dimiliki oleh negara. Itu adalah Syirik!

Sesungguhnya sejak 1924, Riba telah menembus kehidupan ekonomi umat Muslim di seluruh dunia. Imperialisme finansial yang melekat pada Riba telah dibawa ke seluruh dunia Islam sedemikian hingga tenggorokan umat Islam berada dalam genggaman musuh yang memegang pisau tajam. Sesungguhnya semua umat manusia sekarang terjebak dalam jeratan Riba dan Syirik. Tidak hanya nubuat Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) telah menjadi kenyataan dengan kemenangan penuh perbankan berbasis Riba di seluruh dunia, dan dengan Riba yang mengandung uang artifisial yang tidak bernilai tukar, tetapi nubuat itu juga telah menjadi kenyataan dengan rusaknya pasar yang bebas dan adil. Yang disebut pasar bebas saat ini, pada kenyataannya, adalah suatu ‘sarang para pencuri’, di mana yang kuat mengeksploitasi yang lemah.

Akhirnya, Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) sendiri menyerukan bahaya besar dan peringatan mengerikan dalam al-Qur’an dengan menggunakan bahasa yang paling keras melawan Riba:

“Abu Hurairah (rodhiyallahu ‘anhu) berkata bahwa Utusan Allah bersabda: Riba terdiri dari tujuh puluh bagian dosa yang berbeda, bagian dosa yang paling ringan sama dengan dosa seorang lelaki yang menikahi (menyetubuhi) ibunya sendiri.” (Sunan, Ibnu Majah; Baihaqi)

“Abdullah bin Hanzala (rodhiyallahu ‘anhu) melaporkan bahwa Utusan Allah bersabda: Satu dirham (koin perak) hasil Riba, yang diterima seseorang dengan sadar, adalah lebih buruk daripada melakukan perzinahan tiga puluh enam kali. (Ahmad) Baihaqi merawikannya, dari Ibnu Abbas (rodhiyallahu ‘anhu), dengan tambahan bahwa Nabi melanjutkan bersabda: Neraka lebih cocok untuk tubuh yang diberi makan dengan yang haram.”

“Abu Hurairah (rodhiyallahu ‘anhu) melaporkan Rasul Allah bersabda: Pada malam aku dibawa ke langit, aku mendatangi orang-orang yang perutnya seperti wadah berisi ularular yang dapat dilihat dari luar perut mereka. Aku bertanya kepada Jibril, siapa mereka, dan dia mengatakan kepadaku bahwa mereka adalah orang-orang yang memakan Riba.” (Musnad, Ahmad; Sunan, Ibnu Majah)

“Abu Hurairah (rodhiyallahu ‘anhu) melaporkan bahwa Nabi bersabda: Allah tidak akan mengijinkan empat golongan memasuki surga atau merasakan berkahnya: orang yang biasa meminum (alkohol), orang yang memakan Riba, orang yang merampas harta anak yatim dengan tidak benar, dan orang yang menelantarkan orang tuanya.” (Mustadrak, al-Hakim, ‘Kitab al-Buyu’)

Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) juga menegaskan pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya berkenaan dengan larangan Riba dalam Hadits berikut:

“Jabil bin Abdullah (rodhiyallahu ‘anhu) berkata: Aku mendengar Rasul Allah bersabda: Jika di antara kalian tidak meninggalkan mukhabara maka dia harus waspada terhadap pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya. Zaid bin Tsabit berkata: Aku bertanya: Apa itu mukhabara? Dia menjawab: Bahwa kalian memiliki tanah untuk panen lalu mengambil setengah, sepertiga, atau seperempat (dari hasil panen).” (hal ini berbahaya karena dapat memperbudak pekerja dengan tipu daya.) (Sunan, Abu Daud)

Seharusnya sudah jelas dari bahan yang disajikan di atas bahwa pembentukan ekonomi berbasis Riba adalah dosa yang sangat besar. Sebagai akibatnya, tentu itu melanggar syarat-syarat yang ditetapkan Tuhan bagi pewaris Tanah Suci. Nabi dan Keruntuhan Uang Kertas Yang juga menjadi masalah kritis yang sangat penting adalah umat Muslim harus dengan hati-hati mempelajari nubuat Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) tentang keruntuhan mata uang artifisial sekuler (kertas, plastik, uang elektronik,dll.):

“Abu Bakr bin Abi Maryam (rodhiyallahu ‘anhu) melaporkan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda: Suatu waktu pasti mendatangi umat manusia saat tidak akan ada (yang tersisa) yang berguna (atau bermanfaat) kecuali dinar dan dirham (koin emas dan perak).” (Musnad, Ahmad)

Nubuat Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) tersebut hampir menjadi kenyataan. Sistem keuangan saat ini menggunakan ‘kertas’ untuk membuat ‘uang’. Itu adalah tipu daya yang besar! Uang artifisial sangat berbeda dengan uang nyata. Uang nyata memiliki nilai intrinsik, sedangkan uang artifisial tidak. Nilai uang artifisial adalah yang diberikan padanya oleh daya pasar. Nilai pasarnya hanya berlaku selama ada keyakinan publik padanya dan permintaan untuknya di pasar. Permintaan sendiri berdasarkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah sesuatu yang dapat dimanipulasi. Jadi, selama pemerintah mengontrol yang dikenal dengan pasar mata uang yang bebas, maka mereka dapat turun tangan untuk melindungi kepercayaan publik. Namun saat ini, pasar mata uang dikuasai oleh daya spekulatif yang jahat, daya yang dibahan bakari oleh kerakusan tanpa belas kasih. Apapun yang secara serius mengganggu kepercayaan pasar dapat menyebabkan pelarian besar-besaran para spekulan yang akan mewujudkan nubuat Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) menjadi kenyataan.

Keruntuhan uang kertas akan membawakan keberhasilan final bangsa Eropa dalam perjuangan mereka selama lebih dari seribu tahun untuk menjadikan umat Yahudi sebagai penguasa seluruh dunia. Orang-orang yang memiliki uang nyata akan bertahan dalam keruntuhan uang artifisial, sedangkan para spekulan yang dengan berhasil mengeksploitasi keruntuhan tersebut akan mendapat keuntungan terbesar. Masyarakat luas akan kehilangan kekayaan mereka dan diperbudak. Mereka akan terperangkap dengan kertas tak bernilai yang selama ini dipertunjukkan sebagai uang. Itulah bencana holocaust finansial yang pasti akan terjadi.

Orang-orang lainnya pun, selain Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam), sekarang ini memprediksikan keruntuhan finansial tersebut. Judy Shelton, contohnya, melakukannya dalam bukunya yang berjudul “Money Meltdown: Restoring Order to The Global Currency System” (“Keruntuhan Uang: Tata Ulang Sistem Mata Uang Global”, New York, The Free Press, 1994). Kita seharusnya tidak lupa, dan tidak boleh membiarkan dunia lupa, pada keruntuhan dolar AS yang dramatis dan tidak terduga pada Januari 1980 saat nilai dolar terhadap emas jatuh sampai $ 850 untuk satu ounce emas! Keruntuhan dolar AS ini terjadi akibat keberhasilan revolusi Islam anti-Barat di Iran yang memberikan sumber minyak Iran yang berlimpah kepada pemerintah Islam yang anti-sistemik. Keruntuhan yang serupa terjadi pada 1973 setelah perang Arab-Israel dan embargo minyak Arab terhadap AS. Nilai dolar AS jatuh 400% yakni dari US$ 40 per ounce emas menjadi US$

Kenyataannya, keruntuhan sistem moneter internasional akan terjadi saat umat Yahudi memutuskan untuk meruntuhkan Dolar AS. Mereka dapat melakukan itu kapan pun karena Dolar AS terbuat dari kertas dan mengandung tipu daya yang pada intinya tidak bernilai. Saat Dolar AS runtuh, maka semua mata uang kertas lain di dunia pun runtuh. Yang paling diuntungkan dari keruntuhan tersebut adalah Negara Israel, karena merekalah yang mengontrol bank-bank yang sekarang mengontrol uang. Pemerintah-pemerintah negara di dunia tidak akan dapat menerbitkan uang lagi. Malah bank-bank (yang sekarang dikontrol oleh umat Yahudi) akan menerbitkan uang (elektronik) plastik! Keruntuhan uang tersebut bisa saja terjadi saat Israel melancarkan perang besar melawan Bangsa Arab, kemudian dengan berhasil menentang seluruh dunia. Keberhasilan kekuatan militer dan politik bersama dengan kontrol finansial baru yang datang dengan runtuhnya uang kertas akan menjadikan status Israel sebagai Negara Penguasa di dunia. Penulis ini percaya bahwa peristiwa tersebut sepertinya akan terjadi dalam lima hingga sepuluh tahun lagi atau bahkan lebih cepat. Israel dengan berhasil telah menentang presiden AS yang meminta beberapa kali kepada Israel agar menarik pasukan militernya dari kota-kota Palestina yang didudukinya setelah gelombang ‘bom-bom manusia’ warga Palestina mengambil banyak korban warga Yahudi Israel.

Apa Kenyataan dari Serangan Riba?

Daya yang muncul pada zaman modern dan yang merestorasi Negara Israel adalah daya yang telah memperdaya seluruh umat manusia dengan Riba. Al-Qur’an mengidentifikasi daya tersebut sebagai bangsa Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog), dan Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) menambahkan Dajjal al-Masih Palsu. Dia (shollallahu ‘alayhi wassalam) menyatakan bahwa Zaman Dajjal akan menjadi zaman tersebarnya Riba secara universal. Ulama Islam terkemuka, Dr. Muhammad Iqbal, mengejutkan dunia Muslim saat dia menyatakan, sejak 1917, bahwa lepasnya Ya’juj dan Ma’juj dalam ayat al-Qur’an, telah terjadi. Oleh karena itu, jelas sekali bahwa daya Riba yang memperdaya umat manusia adalah serangan dari makhluk jahat yang diciptakan Allah sendiri. Tujuan penyerang adalah untuk menghadapkan seluruh umat manusia termasuk Muslim pada ujian keimanan terbesar yang dialami umat manusia dari sejak Adam (‘alayhi salam) hingga Hari Kiamat. Tujuan dari penyerang adalah untuk menipu umat Yahudi dan membimbing mereka menuju kehancuran terakhir. Bagian terpenting dari serangan itu adalah ujian Riba! Kita sekarang hidup dalam ujian tersebut. Bukti sampai sejauh ini menunjukkan bahwa kebutaan spiritual dunia Yahudi gagal dengan menyedihkan dalam menghadapi ujian tersebut. Spiritual umat Islam pun tampak buta, tidak sanggup menghadapinya.

Allah Maha Tinggi Menyatakan Perang Melawan Israel Allah Maha Kuasa berfirman dengan suatu bahasa yang keras bahwa dosa Riba dapat menjadi dosa terbesar. Murka Allah terhadap penindas (karena penindasan Riba) begitu besar sehingga pada Hari Kebangkitan mereka akan berdiri di hadapan-Nya menjadi suatu kaum yang diliputi kegilaan karena sentuhan setan. Saat Negara Yahudi Israel melakukan Riba maka Allah tidak hanya akan menghukum bangsa tersebut pada kehidupan akhirat, bahkan Dia dan Rasul-Nya (shollallahu ‘alayhi wassalam) akan memerangi mereka di dunia ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa Riba, jika kalian benar-benar beriman.” “Jika kalian tidak melaksanakannya maka waspadalah terhadap (pernyataan) perang dari Allah dan Rasul-Nya…” (al-Qur’an, al-Baqarah, 2: 278-279)

Buku ini mengarahkan perhatian pada kenyataan bahwa umat Yahudi mengendalikan sistem perbankan di seluruh dunia saat ini. Tetapi ayat al-Qur’an di atas adalah tanda begitu kerasnya larangan Riba dari Allah Maha Tinggi. Dalam keseluruhan sejarah wahyu ilahi, sepengetahuan saya, Allah Yang Maha Kuasa tidak pernah menggunakan bahasa yang begitu keras pada hal apa pun selain Riba.

Setelah kematian Sulaiman (‘alayhi salam), Bangsa Bani Israel menyelewengkan Taurat dengan menulisnya ulang beberapa kali dalam beberapa versi yang berbeda. Sarjana al-Kitab Harvard-Amerika, Richard Friedman, telah menunjukkan kesimpulan ini dalam hasil karyanya yang sangat penting berjudul “Who Wrote The Bible?” (“Siapa yang Menulis al-Kitab?”, New York: Harper and Row, 1989). Bani Israel menghilangkan ayat-ayat dalam Taurat mengenai Tempat Ibadah (atau Masjid) yang dibangun oleh Ibrahim (‘alayhi salam) dan Ismail (‘alayhi salam) di Arabia. Ka’bah dan ibadah haji tidak lagi ditemukan dalam Taurat. Mereka juga mengganti semua ayat mengenai Ismail (‘alayhi salam) sebagai anak yang dikorbankan dengan nama saudaranya yakni Ishak (‘alayhi salam), padahal Ishak (‘alayhi salam) belum dilahirkan saat ujian pengorbanan tersebut terjadi. Sebagai tambahan, anak yang dikorbankan digambarkan oleh Allah dalam al-Qur’an sebagai halim (sabar) (Saffat, 37: 101), sedangkan anak yang dilahirkan Sarah digambarkan sebagai alim (bijaksana) (al-Hijr, 15: 53). Mereka mengganti Arabia dengan Palestina sebagai tempat pengorbanan. Zam-zam, mukjizat mata air yang mucul di gurun pasir saat Jibril (‘alayhi salam) menggosokkan tumitnya di pasir, sekarang menjadi mata air di Palestina. Mereka menjelek-jelekkan Ismail (‘alayhi salam) dalam Taurat sebagai orang yang “seperti keledai liar” dan mengeluarkannya dari perjanjian Allah sehingga mereka dapat mengklaim status eksklusif sebagai ‘umat pilihan’ Allah. Yang paling berbahaya adalah mereka
menyelewengkan larangan Tuhan pada Riba. Mereka mengubah Taurat untuk membuatnya mengijinkan uang dipinjamkan dengan bunga kepada orang-orang non-Yahudi sedangkan tetap menjaga larangan Riba pada transaksi antar sesama Bani Israel (Ulangan [Deuteronomy], 23: 20-21). 

Allah Maha Kuasa menanggapi kejahatan kejam ini dengan mengirimi mereka sepasukan makhluk-Nya yang memiliki keahlian perang. Raja Babilonia, Nebukadnezar, menyerbu Israel, mengalahkan Bani Israel, memperbudak semua yang ditawan, menghancurkan Negara Israel dan Masjid al-Aqsa (yang dibangun oleh Sulaiman [‘alayhi salam]) dan membawa pulang Bani Israel ke Babilonia untuk dijadikan sebagai budak (al-Isra, 17: 4-5). Ini adalah bukti kuat kemampuan Allah melancarkan perang.

Ada bukti kedua saat Kaisar Romawi, Titus, membinasakan Jerusalem dan menghancurkan Tempat Ibadah untuk yang kedua kalinya (al-Isra, 17: 7, 104). Ini pun berhubungan dengan Riba. Allah telah mengutus tiga Nabi: Zakariah (‘alayhi salam), Yunus (John) (‘alayhi salam), dan ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) kepada Bani Israel. Golongan Bani Israel yang menolak Nabi-nabi ini menjadi umat Yahudi. Umat Yahudi membunuh Zakariah (‘alayhi salam) di dalam Masjid al-Aqsa (Matias [Matthew], 24: 35, 36; Lukas [Luke], 11: 51). Yunus (John) (‘alayhisalam) dibunuh dengan tipu daya. Dan, akhirnya, umat Yahudi menyombongkan diri bahwa mereka telah membunuh ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam).

Ketiga Nabi Allah telah memperingatkan dan mengutuk mereka karena kejahatan mereka. Ini termasuk peringatan kepada umat Yahudi atas kejahatan mengubah Taurat dan mengkonsumsi Riba. ‘Isa (‘alayhi salam), contohnya, pergi ke Masjid al-Aqsa dan memergoki mereka melakukan Riba. Dia (‘alayhi salam) mengutuk mereka, membalikkan meja-meja mereka, mengusir mereka keluar dari Tempat Ibadah dan menyatakan: “Kalian telah mengambil rumah Allah dan mengubahnya menjadi sarang para pencuri.” Dengan demikian, karena Nabi-nabi Allah mengungkap kejahatan mereka yakni mengkonsumsi Riba, di antara kejahatan-kejahatan lainnya, sehingga mereka membunuh mereka (kecuali ‘Isa (‘alayhi salam), yang secara ajaib diselamatkan Allah). Allah Maha Tinggi merespon kejahatan ini dengan mengirim Pasukan Romawi yang menghancurkan Negara Israel untuk yang kedua kalinya.

Peringatan pernyataan perang dari Allah Maha Tinggi karena konsumsi Riba, akan dianggap lebih serius jika kita merenungi kenyataan bahwa Allah Maha Tinggi telah turun tangan untuk melindungi Masjid Pertama (Ka’bah) di Mekah saat Abrahah datang dengan pasukan gajahnya untuk menghancurkan Ka’bah (al-Qur’an, al-Fil, 105: 1-5). Bahkan saat Ka’bah dipenuhi dengan patung berhala, Allah Maha Tinggi masih turun tangan untuk menyelamatkannya dari kehancuran. Tetapi, bahkan meskipun tidak ada patung berhala di Masjid yang Kedua (Masjid al-Aqsa), Allah Maha Tinggi telah dua kali mengirim pasukan untuk menghancurkannya. Yang demikian itulah gambaran begitu besarnya murka Tuhan atas penindasan yang disebabkan oleh Riba.

Peringatan keras untuk umat Yahudi adalah bahwa Syirik dalam Negara Israel sekuler dan Riba dalam kehidupan ekonominya, keduanya dengan jelas melanggar syarat-syarat yang ditetapkan Tuhan bagi pewaris Tanah Suci. Akibat dari pelanggaran tersebut adalah bahwa Allah Maha Tinggi akan menanggapinya dengan menghukum mereka.

Mengapa Ayat Terakhir Dalam Alquran Berbicara Tentang Riba? Ini Jawabanya.. Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Syuqi Hamada

0 comments:

Post a Comment