Friday, September 23, 2016

‘Isa (Jesus) Al-Masih Asli dan Dajjal Al-Masih Palsu

‘Isa (Jesus) Al-Masih Asli dan Dajjal Al-Masih Palsu 

‘Isa (Jesus) Al-Masih Asli dan Dajjal Al-Masih Palsu

Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka karena penolakan mereka terhadap Pesan sebelum ini. Dan Kami Biarkan mereka dalam penolakan keras kepala mereka (terhadap kebenaran yang diturunkan ini), kebingungan dalam kesesatan (atau hidup tanpa arah dan tujuan). (al-Qur’an, al-An’am, 6:110)

[Kami akan memalingkan hati dan penglihatan umat Yahudi karena penolakan mereka terhadap Pesan sebelum ini, di antaranya saat mereka menolak al-Masih Putra Perawan Maryam]. ‘Isa (Jesus) al-Masih Nabi-nabi Allah Maha Tinggi telah memberi keterangan kepada Bani Israel bahwa Tuhan berjanji untuk mengutus kepada mereka seseorang yang akan menjadi Nabi mereka, yang akan dikenal sebagai al-Masih, dan yang akan memerintah dunia dari tahta Raja Daud (‘alayhi salam). Pada intinya, hal ini sama dengan nubuat kembalinya Masa Kejayaan Sulaiman (‘alayhi salam).

Dalam I Tawarikh (I Chronicles), 17:11-15, Nabi Natan berkata kepada Raja Daud tentang al-Masih dan menyebutnya Putra Daud: 

“Apabila umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau. Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.” Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.” ( I Tawarikh [I Chronicles], 17:11-15) Bertahun-tahun kemudian, Yesaya (Isaiah) menambahkan sebagai berikut:

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yesaya [Isaiah], 9:5-6) 

Lebih jauh lagi Yesaya menuliskan tentangnya bahwa: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsabangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” (Yesaya [Isaiah], 42:1-4)

“… Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yesaya [Isaiah], 49:6)

[Sementara sarjana-sarjana Yahudi mengenali nubuat-nubuat ini berkaitan dengan kedatangan al-Masih, ada sebagian sarjana-sarjana Muslim yang menyatakan bahwa nubuat-nubuat tersebut menunjuk kepada Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam)].

Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) menyatakan bahwa dia, al-Masih, akan menjadi Hakimun ‘Adil (seorang pemimpin dunia yang adil). “Dari Abu Hurairah: Rasul Allah bersabda: Demi Dia yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (aku bersumpah bahwa) Putra Maryam akan segera turun ke tengah tengah kalian sebagai seorang Pemimpin yang Adil. Dia akan mematahkan salib dan membunuh ‘babi’ dan menghapuskan Jizyah (pajak bagi umat Yahudi dan Kristen yang tinggal di wilayah Islam). Kemudian akan ada uang yang berlimpah sehingga tidak akan ada lagi orang yang berhak menerima zakat.” (Sahih Bukhari)  

Dua Potret al-Masih yang Berlawanan 

Umat Yahudi merasa gembira menerima berita tentang al-Masih yang dijanjikan. Tetapi mereka kebingungan tentang adanya dua gambaran yang menggambarkan dua potret yang berlawanan dari dia dan misinya. Yang pertama adalah Raja Penakluk yang akan merestorasi kerajaan ‘Umat Pilihan Allah’ (yang pada saat itu adalah umat Yahudi) di Tanah Suci dan akan memerintah dunia dengan kedamaian. Yang kedua adalah seorang al-Masih yang rendah hati dan menderita. Dua potret yang tampak berlawanan tersebut dengan jelas
digambarkan dalam Yesaya yang menjelaskan al-Masih sebagai ‘Hamba Tuhan’ yang akan sejahtera, diangkat, dan sangat dimuliakan:

“Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan.” (Yesaya [Isaiah], 52:13) 

Kemudian dia menjelaskan ‘Hamba’ sebagai seseorang yang direndahkan sampai pada keadaan dia hampir tidak dianggap sebagai manusia, dan seseorang yang akan mengalami baik pemuliaan maupun penghinaan:

“Seperti banyak orang akan tertegun melihatnya begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (Yesaya [Isaiah], 52:14) 

Seperti tidak dapat terpikirkan, Yesaya membuat nubuat bahwa ‘Hamba’ tersebut akan dipukul dari belakang dan dari depan. Dia akan dihina dengan diludahi mukanya (Yesaya [Isaiah], 50:4-11). Hal ini tepat seperti yang terjadi pada ‘Isa (Jesus). Seorang penulis Kristen, Hal Lindsey, mengomentari peristiwa tersebut dan menyatakan bahwa hal itu mengonfirmasi nubuat Yesaya 52:13 dan 53:12, sebagai berikut:

“Hal itu diketahui sebagai jenis perlakuan terhadap ‘Isa (Jesus) selama enam kali percobaan ilegal, dia dijadikan sebagai sasaran. Petugas penjaga di kuil Herod meludahi muka ‘Isa setelah Sanhedrin menghukumnya. Kemudian mereka menutup matanya dengan kain dan memukul mukanya. Helm yang bergerigi dilekatkan di kepalanya dan dia dengan kejam dicambuk dengan cambuk Romawi. Cambuk itu terbuat dari banyak gulungan kulit yang dilekatkan dengan kepingan-kepingan tulang atau logam yang bergerigi untuk membuat hasil yang lebih menyakitkan.” (Hal Lindsey, The Messiah (al-Masih), Harvest House Publishers, Oregon, 1982, hal.108-109)

Yesaya kemudian mengidentifikasi umat Yahudi sebagai orang-orang yang menyiksa ‘Hamba Tuhan’ (al-Masih). Dia menjelaskan hamba al-Masih sebagai “seseorang yang dihina, seseorang yang dibenci oleh bangsa” (Yesaya [Isaiah],49:7). Hal Lindsey menunjukkan bahwa kata ‘bangsa’ tersebut dalam bentuk tunggal, bukan jamak, dan dia memprotes penerjemahan ayat yang tidak jujur: “Hal yang paling disayangkan (dan tidak jujur) adalah versi standar Revisi al-Kitab dan Penafsiran Soncino Yahudi menerjemahkan bagian ini, ”dialah yang dibenci oleh bangsabangsa.”

Dengan menerjemahkan bangsa dalam bentuk jamak, hal itu memperlihatkan umat-umat kafir (yang selalu disebut sebagai bangsa-bangsa) adalah orang-orang yang menghina dan membenci sang Hamba. Ide tersebut sengaja dibentuk di sini bahwa sang Hamba adalah Israel dan dia dibenci oleh umat-umat kafir. Sementara hal tersebut memang manjadi kenyataan dalam sejarah Yahudi yang telah berlalu, kenyataan tersebut tidak bisa dibuktikan dengan bagian ayat al-Kitab yang ini karena kata yang digunakan dalam bahasa Ibrani untuk ‘bangsa’ adalah ‘goi’, dan itu adalah bentuk tunggal dan hanya dapat diterjemahkan dengan jujur sebagai ‘bangsa’ yang dalam konteks ini menunjuk pada Israel sendiri.” (Lindsey, hal.109) 

(Soncino – seorang Israel, Nathan B. Samuel berpindah ke Soncino, sebuah kota kecil di wilayah Milan. Di sana, dia mendirikan sebuah percetakan untuk anaknya, dan ini adalah permulaan perusahaan besar Joshua Solomon Soncino dan keponakan-keponakannya, Moses dan Gershom. Mengajak Abraham B. Hayyim dari Bologna, mereka memproduksi al-Kitab lengkap yang pertama, yaitu al-Kitab Soncino pada 1488, dengan tanda vokal dan tanda tekanan, tetapi tanpa penafsiran, sebagaimana biasanya Soncino. Soncino bersaudara juga bertanggung jawab dalam produksi al-Kitab Naples 1491-1493 dengan tanda vokal dan tanda tekanan ditempatkan dengan lebih baik dari sebelumnya.

Gershom Soncino berpindah ke Brescia, di mana dia memproduksi al-Kitab Brescia pada 1495, sebuah edisi perbaikan dari al-Kitab Soncino 1488, tetapi yang lebih penting dalam format oktavo yang kecil, menjadikannya edisi buku saku yang khusus diproduksi untuk orang-orang Yahudi yang dianiaya, yang terus-menerus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendapat kesulitan membawa al-Kitab ukuran folio yang besar dan mahal. Edisi itulah yang digunakan Martin Luther saat dia menerjemahkan al-Kitab ke dalam bahasa Jerman). (Jewish Encyclopedia, “Ensiklopedia Yahudi”) 

Bahkan jauh ke belakang pada masa turunnya wahyu Kitab Kejadian (Genesis), ada nubuat tentang seseorang yang akan menjadi ‘penguasa’ dunia, yang melanjutkan kekuasaan yang pertama kali didirikan oleh Daud (‘alayhi salam) dan Sulaiman (‘alayhi salam)

Dia disebut sebagai Shiloh: “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari (keturunan) Yehuda (Judah) ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai Shiloh datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” (Kejadian [Genesis], 49:10)

Nubuat ini ditafsirkan bukan hanya menyatakan suku asal kemunculan al-Masih, tetapi juga menandakan Yehuda (Judah) sebagai garis keturunan raja masa depan. Penafsiran Rabi dari waktu dulu mengenali ‘Shiloh’ adalah al-Masih dan dari sinilah diprediksi bahwa dia lahir dari suku Yehuda. (Pandangan sarjana Muslim adalah bahwa Shiloh merupakan Nabi Muhammad [shollallahu ‘alayhiwassalam]).

Yang membingungkan adalah pengaburan makna karena seorang penulis yang tidak diketahui mengubah naskah Yesaya menjadi menyatakan bahwa al-Masih bukan hanya dilahirkan sebagai seorang anak (dan dengan demikian seorang manusia), yang pada akhirnya akan memimpin dunia, tetapi dia juga menjadi Tuhan Maha Perkasa. Teks yang diubah kemudian menggambarkan al-Masih sebagai manusia dan Tuhan:

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya [Isaiah], 9:5)

Dua ribu tahun lalu saat Allah Maha Tinggi menepati janjinya dan mengutus al-Masih, ‘Isa (Jesus) Putra Maryam, kepada Bani Israel, dia mendapati mereka berpegang pada bentuk ‘luaran’ agama sementara dengan sangat menyedihkan mengabaikan ‘hakikat internal’. Bahkan bentuk ‘eksternal’ pun dirusak karena
mereka mengubah Taurat dan menulisnya ulang untuk memenuhi kepentingan mereka. Saat ‘Isa mengkonfirmasi bahwa sesungguhnya dia adalah al-Masih yang dijanjikan dan saat dia dengan berani mendakwahkan hakikat internal dari agama dan mencela kerusakan bentuk eksternal, sebagian dari Bani Israel menerimanya dan percaya kepadanya namun sebagian besar dari mereka menolaknya. Mereka tetap menolaknya sebagai al-Masih sampai hari ini. Al-Qur’an menyatakan bahwa mereka meyombongkan diri (pada saat itu) telah membunuhnya (dengan penyaliban): 

“Mereka berkata (dengan kesombongan): Kami membunuh al-Masih, ‘Isa Putra Maryam, Rasul Allah…” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:157) 

Saat mereka melihat dia ‘mati’ di tiang salib di depan mata mereka, hal itu disimpulkan oleh mereka bahwa dia adalah al-Masih palsu. Mereka yakin bahwa dia tidak dapat menjadi al-Masih karena Taurat sendiri telah menyatakan siapa pun yang mati digantung (di salib) adalah orang yang ‘dikutuk’ Allah Maha Tinggi (Ulangan [Deuteronomy], 21:23). Kemudian, dia tidak dapat menjadi al-Masih karena dia mati tanpa membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan Romawi pagan, dan dia tidak memimpin dunia dari tahta Nabi Daud (‘alayhi salam).

Dan dengan begitu, mereka masih menunggu kedatangan al-Masih. Setiap pemeluk Yahudi menolak ‘Isa (‘alayhi salam) sebagai al-Masih dan karenanya masih menunggu kedatangan al-Masih berarti secara tidak langsung berusaha menyalib dia. Karena penolakan mereka terhadap klaimnya sebagai al-Masih berkaitan dengan kematiannya yang mereka percaya telah dialaminya. Tetapi Allah Maha Tinggi telah menyatakan bahwa umat Yahudi ditipu untuk percaya bahwa ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) telah dibunuh atau disalib: 

“…Padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak menyalibnya, tetapi dibuat tampak demikian bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) ‘Isa, selalu diliputi keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu, melainkan hanya mengikuti persangkaan belaka, karena sesungguhnya mereka tidak membunuhnya.” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:157) 

Kalau begitu apa yang terjadi pada ‘Isa (‘alayhi salam)? Al-Qur’an menjelaskan apa yang terjadi. Al-Qur’an membuat 5 pernyataan penjelasan: 

Pertama, al-Qur’an menyatakan bahwa umat Yahudi tidak membunuh ‘Isa: “…padahal mereka tidak membunuhnya…” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:157) 
Kedua, al-Qur’an menyatakan bahwa mereka tidak menyalibnya: “…mereka juga tidak menyalibnya…”
(al-Qur’an, an-Nisa, 4:157) 
Ketiga, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa mengambilnya (mengambil jiwanya). Kenyataannya, ada 2 pernyataan tersebut dalam al-Qur’an: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: wahai ‘Isa, Aku mengambilmu kembali (mengambil jiwamu -- kata yang digunakan adalah Waffa), dan mengangkatmu kepada-Ku dan menyucikanmu (dari kesalahan) orang-orang kafir…” (al-Qur’an, Ali Imran, 3:55) “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman (pada Hari Penghakiman), “Wahai ‘Isa (Jesus), Putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah?’” Dia (‘Isa) akan menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah Mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu, sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya, (yaitu) “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian,” dan aku menyaksikan mereka selama aku tinggal di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mengambilku kembali (mengambil jiwaku – kata yang digunakan lagi-lagi adalah Waffa) Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Qur’an, al-Maidah, 5: 116-117) 

Jika Allah Maha Tinggi mengambil jiwa ‘Isa (‘alayhi salam) dan tidak mengembalikannya, maka kejadian itu adalah Maut (mati). Tetapi Allah tetap menegaskan bahwa dia tidak dibunuh (juga tidak disalib): “…sesungguhnya mereka tidak membunuhnya…” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:157) 

Kalau begitu, apa yang Allah Maha Tinggi lakukan dengan jiwa seseorang setelah dia mengambilnya? Mungkinkah Dia mengembalikan jiwa tersebut pada tubuhnya? Dapatkah hal semacam itu terjadi? Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi mengembalikan beberapa jiwa setelah mengambilnya dari tubuh: “Allah mengambil jiwa-jiwa pada (saat) kematiannya dan orang-orang yang tidak mati Dia mengambil (jiwa-jiwa mereka) selama mereka tidur (jiwa orang-orang tidak diambil saat mereka terbangun, tetapi mereka akan mengalami hal itu saat tidur). Kemudian untuk orang-orang yang Dia tentukan kematian (Maut), Dia mencegahnya kembali (jiwanya tidak dibolehkan kembali ke tubuhnya): tetapi sisanya Dia kembalikan (pada tubuh mereka) sampai suatu waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (al-Qur’an, az-Zumar, 39:42) 

Apakah hal ini terjadi pada kasus ‘Isa (‘alayhi salam)? Jawabannya dapat ditemukan pada dua pernyataan berikutnya dari al-Qur’an. 

Keempat, al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa membuatnya ‘tampak’ bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) dibunuh. Kemudian orangorang yang mengamati peristiwa itu diyakinkan bahwa ‘Isa (Jesus) (‘alayhi
salam) benar-benar mati (Maut): “…tetapi begitulah dibuat tampak bagi mereka…” (al-Qur’an, an-Nisa, 4: 157) 

Sekarang mungkin bagi kita menjawab pertanyaan: Kalau begitu, apa yang Allah Maha Tinggi lakukan terhadap jiwa itu setelah Dia mengambilnya? Salah satu jawaban yang mungkin adalah:

Allah Maha Tinggi mengambil jiwa ‘Isa (Jesus) (‘alayhi salam) saat dia masih di tiang salib,
Allah Maha Tinggi kemudian meyakinkan orang-orang yang mengamati peristiwa itu bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) telah mati, 
Allah Maha Tinggi kemudian mengembalikan jiwa ‘Isa (‘alayhi salam) setelah dia diturunkan dari tiang salib dan saat tidak ada orang di sekitar yang dapat mengamatinya. Kemudian dia diangkat ke langit di mana dia
akan turun suatu hari. Perbedaan dari yang diterima oleh keyakinan umat Kristen dengan penafsiran al-Qur’an di atas adalah rentang waktu yang berlalu antara peristiwa di tiang salib dengan kenaikan ‘Isa adalah umat Kristen mengenalinya sebagai orang yang sudah mati. Dalam penafsiran al-Qur’an di atas dia tidak dikenali sebagai orang yang sudah mati karena jiwanya telah dikembalikan ke tubuhnya. Orang-orang yang menolak kemungkinan penjelasan al-Qur’an di atas berargumen bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) tidak pernah ditempatkan di tiang salib. Mereka menafsirkan pernyataan al-Qur’an “mereka tidak menyalibnya” bermakna dia tidak pernah ditempatkan di tiang salib. Mereka sampai pada kesimpulan ini berdasarkan pandangan mereka bahwa penyaliban (istilah yang digunakan al-Qur’an) bermakna secara sederhana ditempatkan di tiang salib dan tidak memerlukan syarat orang tersebut harus mati di tiang salib.

Ahli tafsir al-Qur’an, Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat al-Maidah, 5:36, memegang pendapat bahwa hukuman penyaliban berarti mati di tiang salib (sama seperti hukuman gantung berarti mati di tiang gantung, jika tidak mati di tiang gantung berarti tidak dihukum gantung [penerj.]). Penafsiran selain dari yang di atas adalah Allah Maha Tinggi menjadikan seseorang menggantikan orang lain sehingga seseorang yang lain menggantikan ‘Isa (‘alayhi salam) di tiang salib, dan orang tersebut disalib mati menggantikan ‘Isa (‘alayhi salam). Inilah yang disebut Teori Substitusi.

Hal ini adalah sebuah pendapat, dan seperti semua pendapat mesti tunduk pada persyaratan: Allahu ‘Alam (Allah Maha Kuasa, yang Paling Tahu!). Bagaimana pun, ada banyak sarjana Islam terhormat yang mempercayai Teori Substitusi. Orang-orang yang menolak penafsiran ini berargumen bahwa hal itu menganggap Allah Maha Tinggi dengan jelas melakukan ketidakadilan karena hal itu menyatakan bahwa Dia menyebabkan seseorang yang tidak bersalah (tidak bersalah atas tuduhan yang ditujukan kepada ‘Isa [‘alayhi salam]) disalib menggantikan ‘Isa (‘alayhi salam). Tetapi Allah Maha Tinggi secara berulangulang menyatakan bahwa tidak ada jiwa yang menanggung beban jiwa yang lain (al-An’am, 6: 164; Bani Israel, 17: 15; al-Fatir, 35: 18; az-Zumar, 39:7, an-Najm, 53: 38). 

Kelima, al-Qur’an membuat sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi mengangkat ‘Isa (‘alayhi salam) kepada-Nya. “Tetapi Allah telah mengangkat dia (‘Isa) kepada-Nya; dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:158) Kemudian al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap jiwa (Nafs) pasti merasakan mati (dalam bahasa Arab – Maut): “setiap jiwa pasti merasakan mati (Maut). Dan hanya pada Hari Penghakiman diberikan dengan sempurna balasanmu (atas apa yang kamu lakukan)…” (al-Qur’an, Ali Imran, 3: 185) 

Karena Allah Maha Tinggi telah menyatakan bahwa setiap jiwa (Nafs) pasti merasakan mati, berarti ‘Isa (‘alayhi salam) pun, jika dia memiliki jiwa (Nafs) pasti merasakan mati (Maut). Dengan demikian, pertanyaan muncul: apakah ‘Isa (‘alayhisalam) memiliki jiwa (Nafs)? Apakah dia seorang manusia? Dan karena kita tahu
bahwa dia adalah Putra Maryam, kita juga harus menanyakan: Apakah Maryam seorang manusia? Al-Qur’an menjawab dengan pernyataan yang tegas tentang sifat ‘kemanusiaan’ dari ‘Isa (Jesus) dan Maryam (Mary):“al-Masih Putra Maryam, adalah tidak lebih dari seorang Rasul (Allah). Banyak Rasul-rasul yang telah berlalu sebelum dia. Ibunya adalah seorang wanita yang jujur dan berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami membuat Tanda-tanda yang jelas untuk mereka (mereka yang mempersekutukan Tuhan dengan mengklaim bahwa Tuhan adalah suatu Trinitas, bahwa ‘Isa (Jesus) juga adalah Tuhan, bahwa Maryam juga adalah Tuhan). Dan kemudian perhatikan bagaimana mereka tetap tertipu berpaling dari Kebenaran.” (al-Qur’an, al-Maidah, 5: 75) 

Dengan satu pernyataan yang mengejutkan “mereka berdua memakan makanan”, al-Qur’an menolak pernyataan apapun sehingga ‘Isa (Jesus) (‘alayhisalam) dan Maryam bukan apapun selain hanya manusia. Al-Qur’an juga menyatakan bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) tidak lebih dari seorang abdi dan hamba (Allah Maha Tinggi): “Wahai Ahli Kitab (umat Kristen dan Yahudi), janganlah kalian melampaui batas dalam agama, jangan pula menyatakan apapun terhadap Allah kecuali yang benar. al-Masih, ‘Isa (Jesus) putra Maryam adalah (tidak lebih dari) seorang Rasul Allah, dan kalimat-Nya. Janganlah kamu mengatakan Trinitas. Berhentilah, itu lebih baik bagimu, karena Allah adalah Tuhan yang Satu, Maha Suci Dia (Maha Mulia Dia) dari (anggapan) memiliki seorang anak…” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:171)

“Sesungguhnya dia (‘Isa) adalah tidak lebih dari seorang ‘abd (hamba Allah)…” (al-Qur’an, az-Zukhruf, 43: 59) Oleh karena itu, al-Qur’an menunjukkan dengan jelas bahwa ‘Isa (Jesus) adalah seorang manusia. Dengan demikian ‘Isa (‘alayhi salam) juga akan mengalami hukum alam yang berlaku pada semua manusia yakni kematian. Dia juga pasti mengalami Maut. ‘Isa (‘alayhi salam) akan Kembali Al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) tidak mati. Lebih jauh lagi, al-Qur’an menyatakan bahwa dia diangkat oleh Allah Maha Tinggi. Dan karena al-Qur’an menyatakan bahwa setiap jiwa (termasuk ‘Isa) pasti mengalami kematian (Maut), berarti ‘Isa (‘alayhi salam) pasti kembali dan mengalami kematian seperti setiap manusia yang lainnya.

Tetapi al-Qur’an juga menyampaikan sebuah peringatan keras saat al-Qur’an berbicara tentang kematian ‘Isa. Peringatan tersebut adalah bahwa umat Yahudi dan Kristen semuanya pasti akan percaya pada ‘Isa (sebagaimana al-Qur’an telah mendirikan status dan posisinya sebagai al-Masih dan sebagai Nabi Allah) sebelum ‘Isa mati. Dengan demikian ayat ini dengan jelas menyatakan Rencana Tuhan bahwa ‘Isa suatu hari akan kembali dan bahwa peristiwa tersebut akan terjadi sebelum kematiannya: 

“Dan tidak akan ada seorang pun dari ahli Kitab (tidak akan ada seorang pemeluk Yahudi pun yang menolak ‘Isa sebagai al-Masih dan Nabi Allah, dan tidak seorang pemeluk Kristen pun yang menuntut ‘Isa harus disembah sebagai Tuhan dan sebagai putra Tuhan) melainkan pasti beriman padanya (‘Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian ‘Isa). Dan pada Hari Penghakiman dia (‘Isa) akan menjadi seorang saksi terhadap mereka.” (al-Qur’an, an-Nisa, 4:159) 

Dengan demikian, pada hari itu setiap orang Yahudi pasti akan menerima ‘Isa sebagai al-Masih dan percaya padanya dan setiap pemeluk Kristen pasti akan meninggalkan keyakinan ‘Isa (Jesus) sebagai anak Tuhan dan subjek ketiga dalam trinitas Tuhan. Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) telah menegaskan bahwa ‘Isa (‘alayhi salam) akan kembali: 

“Dari Abu Hurairah: Rasul Allah berkata: Demi Dia yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (aku bersumpah bahwa) Putra Maryam akan segera turun ke tengah tengah kalian sebagai seorang Pemimpin yang Adil. Dia akan mematahkan salib dan membunuh ‘babi’ dan menghapuskan Jizyah (pajak bagi umat Yahudi dan Kristen yang tinggal di wilayah Islam). Kemudian akan ada uang yang berlimpah sehingga tidak seorang pun yang layak menerima pemberian zakat.” (Sahih Bukhari)

Sesungguhnya kembalinya ‘Isa (‘alayhi salam) adalah salah satu dari sepuluh tanda besar Hari Kiamat yang disebutkan Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam): “Dari Hudhayfah bin Usayd Ghifari: Tiba-tiba saja Rasul Allah (shollallahu ‘alayhi wassalam) datang kepada kami (karena kami sibuk dalam suatu diskusi). Dia bertanya: Apa yang kalian diskusikan? (Para sahabat) menjawab: Kami sedang berdiskusi tentang Hari Kiamat. Pada saat itu dia bersabda: Hal itu tidak akan datang sebelum kalian melihat sepuluh tanda dan (berhubungan dengan ini) dia menyebutkan kabut asap (Dukhan), Dajjal, Binatang Buas, matahari terbit dari barat, turunnya ‘Isa putra Maryam (‘alayhi salam), Ya’juj dan Ma’juj, dan gempa bumi di tiga tempat: satu di timur, satu di barat, dan satu di Arabia tempat berakhirnya api yang akan muncul dari Yaman, dan akan menggerakan manusia ke tempat berkumpulnya.” (Sahih Muslim)

Dengan demikian, sepuluh tanda tersebut adalah sebagai berikut:

Lepasnya Dajjal Al-Masih Palsu, 
Lepasnya Ya’juj dan Ma’juj,
Kembalinya ‘Isa al-Masih Asli,
Kenampakan Dukhan (kabut asap),
Kemunculan Dabbatul Ardh (makhluk dari Tanah, yakni Tanah Suci),
Matahari terbit dari barat,
Gempa bumi di timur,
satu lagi di barat,
yang ketiga di Arabia,
Api muncul dari Yaman yang menggerakkan manusia ke tempat berkumpulnya. (Perlu diperhatikan bahwa waktu kejadian tanda-tanda ini tidak berurutan.) Al-Qur’an menegaskan bahwa kembalinya ‘Isa sebagai ‘Tanda dari semua Tanda-tanda’ Hari Kiamat: “Dan sungguh, dia (‘Isa) benar-benar menjadi tanda datangnya Hari Kiamat…” (al-Qur’an, az-Zukhruf, 43:61) ‘Isa sendiri menyampaikan daftar tanda-tanda saat dia kembali:
Banyak orang akan bangkit mengaku sebagai al-Masih, padahal bukan, 
Akan ada berbagai perang dan rumor peperangan, 
Akan terjadi kelaparan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, 
Wabah penyakit akan melanda dunia,
Akan ada peningkatan yang besar dalam ketiadaan hukum dan perilaku tidak manusiawi pada manusia,
Gempa bumi akan meningkat dalam kekuatan dan jumlah kejadiannya.
Sekarang kita memiliki penjelasan untuk dua gambaran yang berlawanan dari al-Masih dalam al-Kitab – yang pertama adalah seorang al-Masih yang lembut hatinya, rendah hati, dan sangat menderita, dan yang kedua adalah seorang penakluk yang hebat. Saat ‘Isa (‘alayhi salam) kembali, dia akan mewujudkan gambarannya yang kedua menjadi nyata. Tetapi, Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) mengungkapkan kejadian sebelum kembalinya ‘Isa (‘alayhi salam), Allah Maha Tinggi akan melepaskan seorang al-Masih Palsu (al-Masih ad-Dajjal) ke dunia pada Zaman Akhir. 

Siapakah Dajjal? Impian terbesar umat Yahudi selama lebih dari dua ribu tahun adalah kembali ke Tanah Suci sebagai penguasa Tanah itu sehingga mereka dapat merestorasi Negara Israel yang pernah didirikan oleh Nabi-Raja Daud (‘alayhi salam) dan Sulaiman (‘alayhi salam), membangun kembali Tempat Ibadah yang pernah dibangun Sulaiman (‘alayhi salam) di Jerusalem, dan menyembah Tuhannya Ibrahim di sana. Sesungguhnya, itu adalah impian yang sangat mulia. Suatu umat yang menjadikan hal tersebut sebagai impian terbesar pastilah suatu umat yang mencapai kebesaran spiritual. Mereka pasti umat yang lebih menyukai ‘kehidupan akhirat’ daripada ‘kehidupan dunia’ dan yang memiliki kecerdasan spiritual yang mampu menembus ‘penampilan’ eksternal untuk mengenali ‘kenyataan’ dari suatu hal. Maka dari itu, paling tidak seharusnya mereka mengenali bahwa impian yang mulia seperti itu tidak mungkin diwujudkan melalui pembentukan Negara Israel yang pada intinya tidak bertuhan, dan dengan teror serta penindasan yang merajalela di Tanah Suci yang sekarang sudah mencapai lebih dari lima puluh tahun. Penindasan itu sepertinya tidak akan berlanjut sampai lima puluh tahun lagi sebelum mereka menerima azab yang mengerikan.

Saat ini, umat Yahudi Bani Israel percaya bahwa impian terbesar mereka tidak dapat dan tidak akan terwujud hingga Nabi spesial yang disebut al-Masih muncul. Dia akan “membawa keselamatan pada Zaman Akhir, saat dia akan menerima tahta sebagai Raja dunia.” Kekuasaan al-Masih ini disebutkan berulang-ulang dalam al-Kitab. Tentu saja Euro-Yahudi yang mendirikan Gerakan Zionis hampir tidak berbagi kaitan sakral pada nubuat yang berhubungan dengan al-Masih. Allah Maha Tinggi menakdirkan bahwa Al-Masih Palsu (al-Masih ad-Dajjal) akan memimpin umat Yahudi dengan tipu muslihat sehingga mereka akan mempercayai hasil kerjanya sebagai perwujudan impian terbesar mereka: kembali ke Tanah Suci milik mereka, restorasi Negara Israel, penunjukkan seorang raja untuk memimpin mereka (Tunjuklah untuk kami seorang raja sehingga kami dapat bertempur di jalan Allah-- al-Qur’an, al-Baqarah, 2:246), dan pembangunan kembali Tempat Ibadah Suci. Kenyataan bahwa mereka tertipu oleh Negara Israel gadungan adalah tanda kebutaan spiritual mereka yang masih berlanjut: 

“Dan amal perbuatan orang-orang yang tidak beriman (di antaranya kepada al-Qur’an dan Nabi Terakhir ini) adalah seperti sebuah fatamorgana di padang pasir saat manusia kepanasan dan kehausan salah mengira adanya air hingga saat dia mendatanginya, dia tidak menemukan apa-apa; tetapi dia menemukan Allah (hadir di sana) dengannya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah amat cepat perhitungannya.” (al-Qur’an, an-Nur, 24:39) 

Negara Israel sekarang tepat seperti situasi manusia yang kepanasan, kehausan, dan salah mengira fatamorgana adanya air. “Sesungguhnya al-Qur’an ini menjelaskan kepada Bani Israel sebagian besar
dari (perkara) yang mereka perselisihkan.” “Dan sungguh, (al-Qur’an) itu benar-benar menjadi Petunjuk dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-Qur’an, an-Naml, 27:76-77) 

‘Penampilan’ yang tampak sekarang adalah ‘impian terbesar’ itu hampir seluruhnya terwujud. Umat Yahudi Bani Israel telah kembali ke Tanah Suci, atau bebas untuk melakukan demikian, dari bagian dunia manapun mereka berasal. Negara Israel telah dibentuk pada 1948 dan sekarang menjadi kenyataan. Impian yang belum terwujud adalah penunjukkan seorang raja dan penghancuran Masjid al-Aqsa sehingga mereka dapat merekonstruksi Tempat Ibadah Suci: “Apabila engkau telah masuk ke tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan telah memilikinya dan diam di sana, kemudian engkau berkata: Aku mau mengangkat
raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus kau angkat atasmu. Dari tengah-tengah saudarasaudaramu haruslah engkau mengangkat seorang raja atasmu; seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah boleh kauangkat atasmu (keyakinan bahwa dia akan berasal dari Keluarga Daud).” (Ulangan [Deuteronomy], 17: 14-15)

Sebagai tambahan, Israel harus menjadi Negara Penguasa di dunia dan Raja Israel harus memimpin dunia dari Jerusalem. Implikasinya adalah semua hal ini tidak dapat dicapai tanpa al-Masih. Inilah ‘penampilan yang tampak’. Apa ‘kenyataan sebenarnya’? ‘Kenyataan’ dari semua ini, jika dipandang menurut Islam, adalah bahwa Dajjal, Al-Masih Palsu, telah menipu umat Yahudi untuk meyakini bahwa kebaikan Tuhan telah membawa mereka dekat dengan perwujudan lengkap impian terbesar mereka. ‘Kenyataannya’ adalah bahwa kebutaan spiritual mereka memimpin mereka kepada suatu jebakan Tuhan yang sekarang sudah tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri. Mereka mencela penindasan dan ketidakadilan di dunia tetapi membenarkan penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh diri mereka sendiri terhadap umat lain. Mereka melakukannya atas dasar bahwa mereka memiliki status spesial dari Tuhan yang tidak dimiliki umat lain. Karena mereka percaya bahwa Tanah Suci milik mereka, mereka juga percaya bahwa mereka memiliki hak untuk merebutnya dari penduduk yang tinggal di sana selama ratusan tahun. ‘Tujuan akhir yang dipercaya baik’ membenarkan segala ‘cara yang buruk’. ‘Kenyataannya’ adalah bahwa mereka tersesat dan
sepenuhnya ditipu oleh Dajjal.

Dajjal, al-Masih Palsu, adalah makhluk nyata yang diciptakan Allah Maha Tinggi, yang akan menyamar sebagai al-Masih dan menipu umat Yahudi untuk meyakini bahwa dia adalah al-Masih Asli. Dajjal diberkahi oleh Allah Maha Bijaksana dengan kekuatan yang menakjubkan, kepandaian dalam banyak hal, dan dengan kemampuan yang besar dalam kelicikan dan tipu muslihat. Umat Kristen mengenalnya sebagai Anti-Kristus. Dajjal, makhluk jahat yang diciptakan Allah Maha Tinggi suatu hari akan muncul ke dunia sebagai manusia. Saat dia melakukannya, dia akan menjadi seorang Yahudi, dan sebagai tambahan, dia akan menjadi seorang lelaki muda yang berbadan kuat dengan rambut keriting. Nabi Muhammad (shollallahu ‘alayhi wassalam) menyangka seorang pemuda Yahudi, Ibnu Sayyad yang tinggal di Madinah adalah Dajjal. Dengan melakukan hal itu dia mengkonfirmasi bahwa Dajjal telah dilepas ke dunia dan suatu saat akan muncul sebagai:

Seorang manusia,
Seorang Yahudi,
Seorang lelaki muda. 

Al-Masih Asli, seperti Sulaiman (‘alayhi salam), akan memimpin dunia dari Tahta Daud (‘alayhi salam), yakni dari Jerusalem. Untuk melakukannya, terlebih dahulu penting baginya mencapai hal-hal berikut:
Membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan orang-orang yang tidak menyembah Tuhannya Ibrahim,
Membawa ‘Umat Terpilih’ (yang pada saat pengumuman janji Tuhan tersebut adalah umat Yahudi) kembali ke Tanah Suci,
Merestorasi Negara Israel yang dulu didirikan oleh Daud (‘alayhi salam) dan Sulaiman (‘alayhi salam),
Membuat Israel menjadi Negara Penguasa di dunia. 

Dengan begitu, al-Masih Asli memerintah dunia dari Tahta Daud (‘alayhi salam), dari Jerusalem. Jika Dajjal al-Masih Palsu berhasil meniru al-Masih Asli maka dia juga harus melakukan hal-hal di atas. Kemudian, pertanyaan muncul sebagai akibat dari pernyataan yang dibuat di atas: jika Dajjal, al-Masih Palsu, atau Anti-Kristus bertanggung jawab atas penipuan besar ini kepada umat Yahudi, dan lebih umum lagi kepada umat manusia yang lainnya, dan jika dia telah dilepas dan berada di bumi, maka di mana dia? Nabi bersabda (yang mungkin menjadi ‘kunci dari teka-teki’) tentang Dajjal al-Masih Palsu sebagai berikut:

“Dari al-Nawwas bin Sam’an: …kami bertanya: Rasul Allah (shollallahu ‘alayhiwassalam), berapa lama dia akan tinggal di bumi? Dia bersabda: Selama 40 hari, sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan sisa harinya akan sama dengan hari kalian…” (Sahih Muslim; Sunan Tirmidzi)

Maka hanya pada akhir hidupnya di bumi, harinya Dajjal akan sama seperti hari kita. Kedua, Dajjal al-Masih Palsu akan berada di dimensi waktu ‘kita’ saat ‘harinya’ sama dengan ‘hari kita’. Dengan demikian, dia akan berada di ‘dunia kita’ hanya pada akhir kehidupannya saat dia memasuki dunia kita untuk
menyelesaikan misinya meniru al-Masih. Janji Allah Maha Tinggi adalah al-Masih akan memerintah dunia dari Tahta Daud (‘alayhi salam), dari Jerusalem, yang akan menjadi pusat Negara Israel. Dengan begitu, jelas bahwa Dajjal secara fisik akan berada di Jerusalem pada akhir hidupnya di bumi, dan karena ‘harinya’ sama dengan ‘hari kita’ pada saat itulah kita baru dapat melihatnya secara fisik sebagai seorang Yahudi, seorang lelaki muda, bertubuh kuat, berambut keriting, dll. Dia juga akan menjadi Penguasa dunia yang akan memerintah dunia dari Jerusalem.

Di sinilah jawaban pertanyaan berkaitan dengan peran strategis Jerusalem pada akhir sejarah. Sebelum itu, dia akan berada di sekitar kita dalam keadaan yang sama seperti malaikat dan jin selalu berada di sekitar kita, namun mereka tidak di dunia ‘kita’ (harinya tidak sama dengan hari kita) dan oleh karena itu dia tidak dapat dilihat. Dia terus-menerus melancarkan serangan untuk menguji iman kita. Dia terus menyusun jaring tipu muslihatnya, tetapi kita tidak mampu mengamati dia dengan pengamatan panca indera normal kita karena ‘harinya’ tidak sama dengan ‘hari kita’. Di mana Dajjal berada saat dia dilepas oleh Allah ke bumi dengan dimensi waktu sehari seperti setahun, dan kemudian sehari seperti sebulan, dan akhirnya sehari seperti seperti sepekan? Kita tahu bahwa dia berada di bumi, tetapi di bagian bumi yang mana? Untungnya kita punya jawaban untuk pertanyaan yang pertama, dan jawaban itu, membukakan peluang bagi kita untuk menemukan jawaban dari dua pertanyaan selanjutnya. Jawaban dari pertanyaan pertama berada dalam Hadits yang dikenal sebagai Hadits Tamim ad-Dari. Tamim ad-Dari dulu seorang Kristian yang memeluk Islam di Madinah. Dia datang menemui Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) dan menceritakan kepadanya sesuatu yang telah dia alami berkaitan dengan Dajjal. Tidak jelas apakah dia bermimpi, atau mendapat penglihatan, atau pengalaman hidup yang nyata. Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) menanggapinya dengan meminta orang-orang untuk tetap duduk setelah sholat di Masjid sehingga dia dapat menceritakan kepada mereka apa yang Tamim telah alami berkaitan dengan Dajjal. Dia menyatakan bahwa apa yang diceritakan Tamim ad-Dari mengkonfirmasi apa yang dia, Nabi (shollallahu ‘alayhi wassalam) sendiri telah sabdakan tentang Dajjal. Inilah Hadits tersebut:

“Dari Fatimah binti Qays, saudara perempuan ad-Dahhak bin Qays: Amir bin Sharahil ash-Sha’bi berkata: Fatimah binti Qays adalah salah satu wanita yang ikut serta dalam hijrah pertama. Aku memintanya menyampaikan kepadaku sebuah Hadits yang dia dengar secara langsung dari Rasul Allah (shollallahu ‘alayhi wassalam) dan tidak ada perantara di antara mereka. Dia (Fatimah) berkata: Baiklah, jika kamu suka, aku siap melakukannya. Dia (Amir) berkata kepadanya: Baiklah, lakukanlah dan sampaikanlah kepadaku. Dia (Fatimah) berkata: …Jadi aku berangkat ke Masjid dan melakukan ibadah sholat berjama’ah dengan Rasul Allah (shollallahu ‘alayhi wassalam) dan aku berada dalam deretan (shaf) wanita yang dekat dengan deretan lelaki. Saat Rasulullah (shollallahu ‘alayhi wassalam) menyelesaikan sholatnya, dia duduk di atas mimbar, tersenyum, dan berkata: Setiap jama’ah sholat harus tetap duduk di tempatnya, dia kemudian bertanya: Tahukah kalian mengapa aku meminta kalian berkumpul?

Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Dia berkata: Demi Allah, aku tidak membuat kalian berkumpul untuk sebuah nasehat atau sebuah peringatan. Aku menahan kalian di sini karena Tamim ad-Dari, seorang Kristian yang datang dan menerima Islam, menceritakan kepadaku sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah aku sabdakan kepada kalian tentang Dajjal. 

Dia menceritakan kepadaku bahwa dia berlayar dengan sebuah kapal layar dengan 30 lelaki Bani Lakhm dan Bani Judham dan diombang-ambing oleh gelombang badai selama sebulan. Kemudian (gelombang) ini membawa mereka (dekat) ke daratan di tengah lautan (pulau) pada saat matahari terbenam. Mereka menaiki sebuah perahu dayung dan mendarat di pulau itu. Ada seekor Binatang Buas dengan bulu tebal (dan karenanya), mereka tidak dapat membedakan muka dengan ekornya. Mereka bertanya: Malang bagimu, siapa kamu? Saat itu Binatang Buas itu berkata: Aku al-Jassasah. 

Mereka bertanya: Apa itu al-Jassasah? Binatang Buas tersebut berkata: Wahai orang-orang, temuilah seseorang di dalam biara karena dia sangat ingin mengetahui perihal tentang kalian. Dia (Tamim ad-Dari) berkata: Saat Binatang Buas itu menyebutkan seseorang kepada kami, kami takut kalau-kalau Binatang Buas itu adalah setan.

Kemudian kami pergi terburu-buru sampai kami memasuki biara itu dan menemukan seorang lelaki bertubuh kuat di sana dengan tangan terikat di lehernya dan belenggu besi mengikat kakinya sampai pergelangan kaki. Kami berkata: Malang bagimu, siapa kamu? Dia berkata: Kalian akan segera tahu tentangku, tetapi katakanlah kepadaku siapa kalian? Kami berkata: Kami adalah orang-orang dari Arabia dan kami berangkat dengan kapal layar tetapi badai ombak membawa kami selama sebulan dan membawa kami dekat dengan pulau ini. Kami mengambil perahu dayung dan mendarat di pulau ini.

Di pulau ini, seekor Binatang Buas dengan bulu yang sangat tebal bertemu dengan kami, dan karena ketebalan bulunya, mukanya tidak bisa dibedakan dengan ekornya. Kami berkata: Malang bagimu, siapa kamu? Binatang Buas itu berkata: Aku al-Jassasah, kami bertanya: Apa itu al-Jassasah? Binatang Buas itu berkata: Kalian pergilah menemui seseorang di dalam biara karena dia menunggu kalian, sangat ingin tahu perihal tentang kalian, jadi kami datang menemuimu dengan terburu-buru karena khawatir Binatang Buas itu adalah setan.

Dia (orang yang dirantai) berkata: Katakan kepadaku tentang pohon kurma Baysan. Kami meminta keterangan: Dalam hal apa kamu ingin tahu informasi tentang itu? Dia bertanya: Aku bertanya kepada kalian apakah pohon-pohon itu menghasilkan buah atau tidak? Kami menjawab: Iya. Saat itu dia berkata: Aku rasa pohon-pohon itu tidak akan menghasilkan buah lagi.

Dia berkata: Informasikan kepadaku tentang Danau Tabariyyah. Kami meminta keterangan: Apa yang ingin kamu ketahui tentang itu? Dia bertanya: Apakah di sana ada air? Kami menjawab: Ada banyak air yang melimpah di sana. Saat itu dia berkata: Aku rasa danau itu akan segera mengering.

Dia berkata lagi: Informasikan kepadaku tentang Mata Air Zughar. Kami meminta keterangan: Apa yang ingin kamu ketahui tentang itu? Dia (orang yang dirantai) bertanya: Adakah air di sana dan apakah air itu mengairi tanaman (di kebun)? Kami katakan kepadanya: Iya, ada banyak air yang melimpah di sana dan penduduk (Madinah) mengairi tanaman (di kebun) dengannya.

Dia bertanya: Informasikan kepadaku tentang Nabi yang ummi, apa yang telah dia lakukan? Kami menjawab: Dia telah meninggalkan Mekah dan menetap di Yatsrib (Madinah). Dia bertanya: Apakah orang-orang Arab menentangnya? Kami berkata: Iya. Dia bertanya: Bagaimana dia menghadapi mereka? Kami beritahu dia bahwa dia (Nabi) (shollallahu ‘alayhi wassalam) telah mengatasi orang-orang yang ada di sekitarnya dan mereka menundukkan diri mereka di hadapan dia (shollallahu ‘alayhi wassalam). Saat itu, dia bertanya kepada kami: Apakah itu sudah benar terjadi? Kami berkata: Iya. Saat itu dia berkata: Kalau begitu, lebih baik bagi mereka jika mereka mematuhi dia (shollallahu ‘alayhi wassalam)

Aku akan mengatakan kepada kalian tentang diriku. Aku adalah Dajjal dan akan segera diijinkan pergi. Maka aku akan pergi dan berkeliling di bumi, dan tidak akan menghindari kota apa pun di mana aku akan tinggal selama 40 malam kecuali Mekah dan Tauba (Madinah). Dua (kota) ini adalah (wilayah) terlarang bagiku dan aku tidak akan berusaha memasukinya. Malaikat dengan pedang di tangannya akan menyerangku dan menghalangi jalanku dan ada malaikat-malaikat yang menjaga setiap jalan masuk menuju kedua kota itu.

Kemudian Rasul Allah (shollallahu ‘alayhi wassalam) memukul mimbar dengan ujung tongkatnya, berkata: Tauba berarti Madinah. Tidakkah aku pernah mengatakan kepada kalian berita (tentang Dajjal) seperti ini? Orang-orang berkata: Iya. Dan aku menyukai berita yang disampaikan oleh Tamim ad-Dari ini karena menguatkan berita yang telah aku berikan kepada kalian tentang dia (Dajjal) di Madinah dan Mekah. Perhatikanlah dia (Dajjal) ada di Laut Suriah (Mediterania) atau Laut Yaman (Laut Arab). Tidak, sebaliknya, dia ada di timur, dia ada di timur, dia ada di timur, dan dia menunjuk dengan tangannya ke arah timur. Aku (Fatimah binti Qays) berkata: Aku menjaganya (Hadits Rasulullah [shollallahu ‘alayhi wassalam] ini) tetap dalam ingatanku. (Sahih Muslim)

Sangat jelas dari Hadits ini bahwa saat Dajjal dilepas ke dunia, dia secara geografis berada di pulau itu, dan dari pulau itu dia akan memulai usahanya meniru al-Masih dengan membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan umat non-Yahudi, dst. Pulau yang mana itu? 

Pulau Itu Adalah Inggris

Pendapat kami adalah bahwa pulau yang dimaksud dalam Hadits tersebut ialah Inggris. Bukti yang mendukung pendapat kami benar-benar mengejutkan. Pertimbangkan hal-hal berikut: pada 1917 Pemerintah ‘Pulau’ Inggris mengutarakan Deklarasi Balfour yang mengejutkan dunia dengan mengumumkan keinginan Pemerintah Inggris mendukung pendirian Negara Yahudi di Tanah Suci. Kemudian, pada 1917-1918 pasukan Inggris yang dipimpin Jenderal Allenby mengalahkan pasukan Turki Ottoman dan membebaskan Tanah Suci dari kekuasaan Muslim.

Sejak 1919 hingga 1948 Inggris menguasai Tanah Suci berdasarkan mandat dari Liga Bangsa-Bangsa. Dalam periode waktu itu, dunia menyaksikan perpindahan massal umat Euro-Yahudi ke Tanah Suci. Kebencian orang-orang Jerman yang sangat besar pada umat Yahudi karena pengkhianatan mereka dalam Perang Dunia Pertama (kaum Yahudi Jerman membuat perjanjian dengan Inggris bahwa mereka akan mengajak AS mengikuti perang membantu Inggris, jika Inggris, sebagai balasannya, berjanji memberikan Tanah Suci kepada mereka jika perang berhasil dimenangkan) dan sebagai akibatnya kebangkitan Pemerintahan Hitler melakukan penyiksaan massal terhadap kaum Yahudi sehingga jumlah perpindahan umat Yahudi dari Eropa ke Tanah Suci meningkat secara dramatis.

Akhirnya, pada 1948 Inggris ‘membidani’ bayi negara yang lahir, dengan Deklarasi Kemerdekaan Israel. Kami menekankan, sebagai tambahan, bahwa Pulau Inggris terletak di seberang Laut Mediterania dengan jarak sekitar sebulan perjalanan kapal layar dari Tanah Arab! Penting juga menekankan bahwa Inggris memiliki mata-mata yang ahli. Film-film Sherlock Holmes dan James Bond adalah cerita fiksi yang menyamai keahlian Lawrence of Arabia (al-Jassasah yang berbulu tebal sehingga tidak bisa dibedakan antara muka dan ekornya ditafsirkan bahwa pulau tersebut sangat ahli dalam bidang intelijen atau mata-mata [penerj.]).

Sangat mungkin bahwa akan ada orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat kami yang mengidentifikasikan Inggris sebagai pulau yang disebutkan dalam Hadits itu. Kepada orang-orang tersebut, dengan penuh hormat kami menanggapi dengan ajakan agar mereka dengan baik mengoreksi kami. Untuk itu, mereka sendiri harus mengidentifikasi pulau itu dan menyediakan bukti yang membenarkan klaim mereka dan menyalahkan klaim kami. 

Dan dengan demikian, kami telah menyimpulkan bahwa Hadits itu memberitahu kita bahwa letak Dajjal saat dilepas ke bumi dan dia memulai misinya meniru al-Masih dalam dimensi waktu ‘sehari seperti setahun’ adalah di Pulau Inggris. Kami juga menekankan bahwa selama periode waktu tersebut, Inggris menjadi ‘Negara Penguasa’ di dunia. Kedua, kami tekankan bahwa saat menjadi ‘Negara Penguasa’ di dunia, Inggris juga memegang kendali keuangan dunia. Hal ini dilakukan melalui Bank of England. Bahkan pada waktu itu, London adalah ibu kota keuangan dunia. 

Tetapi, kemudian kami memperhatikan ada satu momen saat secara aneh dan misterius, Inggris berhenti menjadi ‘Negara Penguasa’ di dunia dan digantikan oleh Amerika Serikat. Proses perubahan ini tampaknya dimulai dengan satu perang, yakni Perang Dunia Pertama, dan diakhiri dengan perang yang lain, yaitu Perang Dunia Kedua. Pandangan kami adalah bahwa periode waktu antara Perang Dunia Pertama dan Kedua merupakan pergerakan Dajjal dari dimensi waktu sehari seperti setahun menuju sehari seperti sebulan. Sangat penting mengamati proses perubahan ini dengan pengetahuan yang mendalam karena hal itu memberikan petunjuk kepada kita untuk mengenali momen saat Dajjal bergerak dari dimensi waktu sehari seperti sebulan menuju sehari seperti sepekan.

Sebuah aksi teroris pada musim panas tahun 1914 di Kota Sarajevo mengakibatkan Arch Duke Austria-Hongaria Franz Ferdinand terbunuh. Pelaku kejahatan itu adalah seorang Serbia tetapi jejak kaki yang ditinggalkan mengarah ke Rusia. Siapapun yang merencanakan pembunuhan itu, dan meninggalkan jejak kaki tersebut ke arah Rusia, menginginkan Austria-Hongaria menyatakan perang melawan Rusia. Target sesungguhnya bukan Rusia tetapi aliansi Rusia, yaitu Inggris. Khilafah Islam Turki juga target yang lainnya yang harus diruntuhkan dan Inggris harus melakukan pekerjaan peruntuhan tersebut. Saat Austria-Hongaria menyatakan perang terhadap Rusia, Inggris dan Prancis terpaksa memasuki perang membantu Rusia. Dan Jerman menanggapi dengan memasuki perang membantu Austria-Hongaria. 

Tujuan di balik pembunuhan itu adalah untuk melemahkan ekonomi Inggris dengan perang sehingga Inggris pun akhirnya kehilangan statusnya sebagai Negara Penguasa di dunia dan digantikan oleh negara lain. Pelaku terorisme itu dengan jahat dan licik secara bersamaan menyerang Kekaisaran Khilafah Islam Ottoman. Khilafah adalah halangan besar bagi tercapainya rencana merebut Tanah Suci, untuk mengembalikan umat Yahudi ke Tanah Suci, dan merestorasi Negara Israel. Cara terbaik menghilangkan halangan tersebut adalah dengan perang. Dengan begitu, Kekaisaran Khilafah Islam Ottoman dipaksa, dengan cara tipu daya internal yang sangat ahli, untuk memasuki perang membantu Jerman. Inggris kemudian digunakan untuk menyerang dan meruntuhkan bukan hanya Kekaisaran Islami Ottoman tetapi juga Khilafah Islam. 

Tetapi, dari 1914 sampai 916 perang tersebut menjadi bencana bagi Inggris. Pertama, kapal selam Jerman merebut kekuasaan lautan dari Inggris. Kedua, Jerman menduduki Prancis dan mendirikan Pemerintahan Pro-Jerman di Paris. Ketiga, prajurit-prajurit Rusia banyak yang menjadi desertir dan mundur. Dan akhirnya, hingga 1916 Inggris berada dalam kesulitan yang mengerikan, terdampar, dan terancam kelaparan. Kemudian, perubahan dramatis terjadi pada 1916. Umat Yahudi mendekati Pemerintah Inggris dan menawarkan akan mengajak AS memasuki perang membantu Inggris jika Inggris mau, sebagai quid pro quo (bentuk balas jasa), berjanji memberikan Tanah Suci kepada umat Yahudi pada akhir peperangan, Inggris menerima tawaran tersebut.

Kemudian umat Yahudi melakukan propaganda secara besar-besaran di Amerika Serikat dan melakukan segala cara hingga mereka berhasil mengajak Amerika Serikat memasuki perang membantu Inggris pada 1916. Inggris merespon setahun kemudian dengan mengumumkan Deklarasi Balfour. Tahun 1916 juga menandai kesuksesan badan intelijen Inggris di Semenanjung Arabia. Inggris berhasil mencapai dua tujuan yang sangat penting yang keduanya mengandung pukulan strategis bagi Kekaisaran Khilafah Islam Ottoman. 

Pertama adalah perjanjian antara Inggris dan Abdul Aziz bin Saud (yang kemudian menguasai Riyadh). Dana yang dikeluarkan keuangan Inggris hanya 5.000 poundsterling setiap bulan untuk Abdul Aziz. 

Kedua, berhasil mendorong Syarif Husain, syarif yang ditunjuk Khalifah Ottoman untuk memimpin Mekah dan Hijaz, memberontak melawan Kekaisaran Khilafah Ottoman dan menyatakan kemerdekaannya. Dana yang dikeluarkan Inggris untuk itu berjumlah tujuh juta poundsterling. 

Dan dengan begitu, keadaan peperangan menjadi berubah pada tahun 1916 dan akhirnya membawa kemenangan ke pihak Amerika Serikat, Inggris, dan umat Yahudi. Bukan hanya Jerman yang dikalahkan, tetapi juga yang lebih penting adalah Kekaisaran Khilafah Islam Ottoman terpecah belah dan posisinya digantikan oleh Negara Republik Turki sekuler. Sesungguhnya, pimpinan Turki sekuler dipaksa menegosiasikan kerjasama ofensif dan defensif dengan Inggris yang telah memainkan peran utama dalam pemecah-belahan Kekaisaran Khilafah Islam Ottoman. Tetapi, Inggris begitu hancur akibat perang sehingga
AS menggantikannya sebagai Negara Penguasa di dunia. Hal ini dikonfirmasi selama periode antara dua Perang Dunia dan kemudian setelah Perang Dunia Kedua. Contohnya, selama Perang Dunia Kedua, adalah Jenderal Amerika Serikat, Dwight Eisenhower yang memimpin Pasukan Sekutu. Kemudian pada 1944, Konferensi Bretton Woods membentuk sistem keuangan internasional yang baru, dengan pasti menandakan bahwa status adikuasa Inggris menghilang saat konferensi tersebut memilih Dolar AS sebagai mata uang internasional yang baru, menggantikan Poundsterling. 

IMF (International Monetary Fund, “Badan Keuangan Internasional”) dan Bank Dunia menggantikan Bank of England sebagai lembaga keuangan utama dunia. Dan Washington dan New York, menggantikan London sebagai ibu kota finansial dunia, kemudian dijadikan pusat untuk mengendalikan sistem keuangan dunia. Setelah perang berakhir, adalah Amerika Serikat yang membangun kembali ekonomi Inggris dan Eropa melalui Perencanaan Marshall (Marshall Plan). 

Pada 1956, Krisis Suez dan lagi dalam Krisis Misil Kuba pada 1963, Amerika Serikat dengan meyakinkan menunjukkan status barunya sebagai Negara Penguasa di dunia. Dengan cara yang sama seperti Inggris, Negara Penguasa dunia, secara aneh terobsesi dengan Tanah Suci (seperti Deklarasi Balfour) dan warga negara Inggris sendiri tidak mampu menjelaskan obsesi aneh ini. Begitu juga negara adikuasa baru, Amerika Serikat secara aneh terobsesi dengan Tanah Suci, dan begitu juga warga negara AS sendiri tidak mampu menjelaskan obsesi aneh ini. Contohnya, Amerika Serikat adalah negara pertama yang ‘mengakui’ Negara Israel saat negara itu baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1948. Sejak saat itu, Amerika Serikat menjadi pelindung utama Israel! AS memberikan bantuan keuangan, ekonomi, dan militer secara berlimpah kepada Israel. 

Kenyataannya, bantuan Amerika Serikat (US-Aid) untuk Israel hampir melebihi total bantuan Amerika Serikat untuk bagian dunia lainnya. Beberapa bantuan Amerika Serikat diberikan kepada Israel melalui pemerintah Amerika Serikat tetapi sejumlah bantuan yang banyak juga diberikan kepada Israel melalui kaum Yahudi kayaraya yang tinggal di Amerika Serikat. Sejauh ini bantuan militer telah diberikan melalui ‘jalan depan’ dan beberapa lainnya melalui ‘jalan belakang’ (kasus Jonathan Pollard yang memberikan rahasia senjata nuklir Amerika Serikat kepada Israel adalah kasus yang paling terkenal). Sebagai akibatnya, Israel menjadi negara berkekuatan nuklir dan termonuklir yang sebanding dengan negara nuklir kelas dunia.

Kesimpulan kami adalah secara geografis Dajjal berada di Amerika Serikat selama tahap hidupnya di bumi saat ‘sehari baginya seperti sebulan’. Kami melanjutkan argumen bahwa sekarang kami dapat menunjukkan lokasi Dajjal berpindah ke tahap hidupnya di bumi saat ‘sehari baginya seperti sepekan’, yang akan menyaksikan Amerika Serikat digantikan oleh Israel sebagai Negara Penguasa di dunia. Kenyataannya, kami berpendapat bahwa serangan terhadap Amerika Serikat pada 11 September 2001 adalah proses awal terjadinya pergantian Negara Penguasa. Dengan kebaikan dari kenyataan bahwa al-Qur’an menyatakan “untuk menjelaskan segala sesuatu” (al-Qur’an, an-Nahl, 16: 89), Al-Qur’an mampu menjelaskan peristiwa paling mengejutkan yang terjadi dalam sejarah religius manusia, yaitu restorasi Negara Israel di Tanah Suci hampir dua ribu tahun setelah negara itu dihancurkan oleh Allah Maha Tinggi.

Tujuan kami kembali kepada al-Qur’an sebagai sumber penjelasan mengenai hal ini adalah untuk mengarahkan perhatian pada petunjuk Tuhan tersebut yang akan membantu umat Muslim di seluruh dunia agar dapat merespon dengan tepat terhadap berbagai peristiwa aneh yang terjadi di Tanah Suci. Sebelum kami kembali pada penjelasan nubuat Tuhan yang telah mulai terwujud bahwa Allah Maha Tinggi akan membawa umat Yahudi kembali ke Tanah Suci pada ‘Akhir Masa’, penting bagi kami menjelaskan topik Mirza Ghulam Ahmad yang telah menjadi pembohong besar di dunia berkaitan dengan nubuat kembalinya al-Masih.

‘Isa (Jesus) Al-Masih Asli dan Dajjal Al-Masih Palsu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Syuqi Hamada

0 comments:

Post a Comment